Regulator Dunia: Waspadai Ancaman Deepfake yang Gunakan Teknologi AI & Deep Learning

0
337

Jakarta, Komite.id- Teknologi Artificial Intelligence (AI)  merupakan teknologi yang mensimulasi kecerdasan manusia sehingga komputer/mesin dapat memecahkan persoalan dan mengambil keputusan secara lebih cerdas dan manusiawi. Teknologi ini tengah menjadi trend  berkat kemunculan deep learning, salah satu turunan AI yang mampu mereplikasi cara kerja otak manusia.

Konsep AI sudah digaungkan sejak tahun 1950-an oleh ilmuwan bernama Alan Turing dan perkembangannya semakin muktahir berkat dukungan ketersediaan data, teknologi computing dan algoritma yang jauh lebih canggih. AI berpotensi mentransformasi dan mengoptimalkan performa bisnis

Sementara itu,   CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk  pernah menegaskan kekhawatirannya tentang masa depan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pada 2018 lalu, Musk pernah mengklaim teknologi AI akan menimbulkan ancaman yang jauh lebih besar dibandingkan senjata nuklir bagi kehidupan manusia. Karena sebuah teknologi itu dapat berkembang eksponensial, sedangkan otak manusia hanya bisa berkembang linear, misalnya seseorang butuh 12 tahun mengenyam pendidikan untuk menjadi seorang dokter atau lawyer, sedangkan sebuah mesin AI dapat mengunduh 12 tahun informasi dan data pendidikan hanya dalam waktu sekejab.

Memori manusia mempunyai keterbatasan untuk mengingat dan menghafal, sedangkan memory AI bisa ditambahkan sebanyak mungkin dengan menambah kapasitas RAM misalnya. Juga sebuah mesin tidak pernah merasa capai dan dapat bekerja nonstop tanpa lelah dan kehilangan konsentrasinya , sedangkan manusia harus beristirahat atau kehilangan konsentrasinya. Artinya suatu saat tiba waktunya AI menjadi Artificial General (or Super) Intelligent, dimana AI menjadi lebih superior dari manusia, suatu masa yang dikenal dengan “The Age of Technology Singularity”. Bahaya teknologi AI diprediksi akan jauh lebih besar daripada bahaya hulu ledak teknologi nuklir… ”  “Ingat kata-kataku teknologi AI jauh lebih berbahaya daripada teknologi nuklir”.

Ketika Dr Rudi Rusdiah menanyakan kepada Prof Adi kapan era Age of Tech. Singularity apakah 10-30 tahun kedepan, belum ada yang bisa memprediksi kapan, meskipun itu pasti akan terjadi, sebuah keniscayaan (inevitability) ? AI seperti teknologi lainnya misalnya rekayasa DNA, seperti sebuah pisau bermata dua, ada sisi positifnya banyak membantu manusia sebagai augmented technology, namun juga ada sisi mudaratnya yang berbahaya dapat mensubstitusi manusia, jika tidak dijaga dan diperhatikan perkembangannya.

Disini peran sulit dari regulator.. to be or not to be. Karena jika perkembangan teknologi terlalu dikekang, maka tidak berkembang untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Namun jika perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, Facebook, IBM, Militer berlomba lomba untuk mengembangkan teknologi tanpa peduli bahwa teknologi tidak memiliki etika, maka hasilnya bisa sebuah mesin yang berbahaya, misalnya pasukan drone AI yang dapat membunuh musuh tanpa takut mati, karena hanya sebuah mesin yang menjalankan misinya tanpa memiliki etika atau perasaan. Bagaimana jika teknologi ini jatuh ketangan teroris, sama seperti apa yang dikatakan oleh Elon Musk, bagaimana misalnya sebuah bom nuklir jatuh ketangan pihak yang tidak memiliki etika ?

Menurut Prof Adi Prananto dari Universitas Teknologi Swinburne,  teknologi  deep learning, machine learning, dan AI memiliki potensi untuk melampaui perkembangan kognitif manusia, Memiliki kemampuan mengantisipasi ratusan kemungkinan skenario, Memiliki kemampuan untuk menyerap dan menganalisis titik data 1000xxx, Memiliki kemampuan merespon lebih cepat  dan juga  memiliki kemampuan untuk multi-tasking yang sangat efisien dalam lingkungan pengambilan keputusan yang sangat dinamis.

“Teknologi yang menggunakan dasar  AI  dan deep learning yang berkaitan dengan sistem neural objek, adalah Deepfake. AI mampu menghasilkan pembelajaran yang berujung pada produk video maupun suara palsu. Kita harus mewaspadai ancaman teknologi Deepfake di dunia nyata sebab ancaman dari dunia siber kedepan semakin beragam,” jelas Adi Prananto.

Salah satu contoh bahaya teknologi Deepfake pernah diuji coba tim BuzzFeed dengan peniru gerakan, sutradara Jordan Peele. Tim membuat video mantan PresidenAS Barack Obama. Dalam video Deepfake tersebut, Obama tampak mengucapkan kata-kata kasar kepada Presiden AS, Donald Trump. Padahal video tersebut dibuat dari gerakan yang diciptakan Jordan. Sementara, suara Obama diambil dari potongan komentar mengenai film Black Panther. Wajah Obama diambil dari sejumlah foto. Pemanfaatan AI sangat luar biasa dapat ditangan yang salah dapat membuat sebuah berita kontroversial seorang pemimpin negara namun dibuat dengan AI untuk membuat chaos misalnya.

Sekali lagi peran regulator atau AI governance sangat penting. Ketika Kepala BPPT merelis Stranas (Strategi Nasional) AI Agustus 2020 yang lalu, salah satu aspek penting adalah aspek etika dan governance dari AI, bukan hanya aplikasi dan pemanfaatan teknologi AI saja. Ingat Teknologi tidak mempunyai etika, namun manusia membutuhkannya.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.