Tingkatkan Literasi Teknologi Digital, Kominfo Gelar Webinar Cegah Berita Hoax

0
1259
Dokumen by Kominfo Siberkreasi

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat mengenal dan mengadopsi teknologi digital sehingga mampu mendukung tercapainya target kumulatif sebesar 50 juta orang terliterasi di tahun 2024.

Jakarta, Komite.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bekerjasama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi bersama Eureka menyelenggarakan kegiatan Webinar “Mencegah Hoax Tentang Kesehatan”. Acara kolaborasi ini diikuti oleh kelompok masyarakat dari berbagai komunitas di DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat mengenal dan mengadopsi teknologi digital sehingga mampu mendukung tercapainya target kumulatif sebesar 50 juta orang terliterasi di tahun 2024.

Tercatat pada data We Are Social, bahwa pada tahun 2021 pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, dimana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Dapat dikatakan bahwa pengguna internet di indonesia mencapai 61.8% dari total populasi Indonesia. Menurut Survei Literasi Digital di Indonesia, Indeks atau skor Literasi Digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.

Kegiatan webinar tersebut berlangsung pada pukul 13:00 s/d 15:00 WIB dengan diisi oleh tiga narasumber yang membawakan berbagai materi terkait tema “Mencegah Hoax Tentang Kesehatan”, ketiga narasumber tersebut adalah Basra Ahmad Amru selaku Direktur Eksekutif Portkemas, Muhammad Rizal Saanun selaku Research and Development Lead PT. Meraki Kreasi Bangsa, dan Andika Zakiy selaku NK Facilitator and Program Coordinator SEJIWA.

Adanya perbedaan kultural, standar baru yang harus kita patuhi saat Covid-19 yang menyebar pada awal tahun 2020 di Indonesia, pemerintah mengeluarkan upaya agar masyarakat terlindungi dari wabah tersebut dengan melakukan 5M yaitu menggunakan masker, mencuci tanggan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan Mengurangi mobilitas di luar rumah.

Banyaknya informasi terkait penyebaran wabah tersebut, banyak pula kabar hoaks seputar kesehatan yang mulai ada di media digital.

“Hoaks misinformasi dan disinformasi dimana kebenaran berita atau informasi dipelintir sedemikian rupa sehingga membentuk narasi yang menyimpang.” Ujar Muhammad Rizal Saanun, dalam keterangan rilils yang diterima Komite.id, Rabu (06/07).

“Dari  Info grafis, konten yang mengandung Hoaks selama 2021. isu kesehatan merupakan isu ke 2 dimana mengandung isu hoaks sebanyak 39,7%, 54.4%,” lajutnya.

Dari hasil Survei Status Literasi Digital 2021 saat menerima informasi, ada 71,9% responden yang membaca secara detail informasi yang mereka terima terlebih dahulu, kemudian 36,7% responden akan bertanya ke teman atau keluarga mengenai informasi tersebut. Namun, ada 32,3% responden yang tidak melakukan apa-apa atas informasi yang mereka terima saat itu.

Lalu bagaimana langkah yang tepat untuk mencegah hoaks tentang kesehatan terkait informasi kebohongan yang diterima?. Dari hasil data survey Status Literasi Digital tahun 2021 oleh responden setidaknya ada 83,8% responden mengatakan perlu mencari kebenaran dari setiap informasi yang diterima agar dapat mencegah penyebaran hoaks. Namun, hanya 17,9% responden yang mengatakan akan menegur oknum yang terbukti menyebarkan hoaks.

Masifnya penyebaran hoaks yang beredar di kalangan masyarakat membuat 63% responden menyatakan bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika berperan penting dalam menghentikan penyebaran hoaks ini. Selain itu, seluruh warga juga ikut bertanggung jawab untuk menghentikan penyebaran hoaks.

“Agar tidak terpapar berita hoaks kesehatan, masyarakat bisa mencegah hal tersebut dengan melakukan idetifikasi berita melalui turnbackhoaks.id , cekfakta, snopes, dan bisa juga mengakses website http://kominfo.go.id” ujar Andika Zakiy NK.