Inilah Dampak Hadirnya Ekosistem Teknologi Digital

0
173
Potret Scientist for Government of India, Ministry of Electronics and Information Technology, Office of CCA, New Delhi, India, Dr. K K Soundra Pandian, PhD, PostDoc, saat menyampaikan materi dalam event Websummit DataSecurAI 2022, Kamis (31/03/22).

Tak dapat dipungkiri, hadirnya teknologi baru memiliki dampak besar bagi industri 4.0 di mana sistem siber kini telah memimpin revolusi industri dengan melibatkan teknologi sistem cerdas seperti Artificial Intelligence & Machine Learning sebagai bentuk integrasi dunia online.

Jakarta, Komite.id – Sebagai salah satu speaker dalam event Websummit DataSecurAi 2022 di hari ketiga, Scientist for Government of India, Ministry of Electronics and Information Technology, Office of CCA, New Delhi, India, Dr. K K Soundra Pandian, PhD, PostDoc, menyampaikan materi tentang ‘Impact of Emerging Technologies and Challenges for Industry Revolution’.

Seperti yang diketahui, emerging technology pada umumnya  menggambarkan teknologi baru atau pengembangan teknologi yang sudah ada, seperti pada media, bisnis, ilmu pengetahuanatau pendidikan. Teknologi tersebut berupa Geo-Spatial, Augmented Reality (AR), Visual Reality (VR), Drone technologies, Digital Security, Blockchain, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML), Data Analytic dan Cloud.

Pasalnya, teknologi baru memiliki dampak besar dalam industri 4.0 ketika sistem siber mulai memimpin revolusi industri tanpa bantuan campur tangan manusia. Dalam pemaparannya, Dr. K K Soundra Pandian mengatakan banyaknya faktor revolusi industri saat ini memang berdampak besar terhadap sistem siber dan ancaman siber serta data analytics. Yang mana semua hal ini akan menjadi tantangan untuk integrasi.

Terkait hal tersebut, Soundra Pandian menjelaskan bahwa ada 4 revolusi industri informasi yang berhubungan dengan adanya teknologi baru saat ini, di antaranya revolusi industri pertama meliputi teknologi mesin berbasis uap, revolusi industri kedua meliputi teknologi produksi massal berbasis energi listrik, revolusi industri ketiga meliputi teknologi pengetahuan berbasis komputer dan internet dan revolusi industri keempat meliputi teknologi informasi Atificial Intelligence. Di mana kini era revolusi industri 4.0 merupakan era yang sangat rentan terhadap ancaman siber.

Dengan memahami sistem keamanan yang benar, maka kita akan dapat mengamankan data pribadi milik masing-masing. Pada dasarnya, keamanan informasi menjadi sangat penting saat mengirimkan informasi melalui jaringan dan tautan komunikasi untuk aplikasi seperti Militer, dokumen Pemerintah, pemrosesan transaksi online, e-banking, trading, e-commerce, aplikasi multimedia, perawatan kesehatan berbasis ICT dan sebagainya.

Selanjutnya Ministry of Electronics and Information Technology, Office of CCA, New Delhi, India, menerangkan tentang Cyber Physical System (CPS) yang merupakan komunikasi berbasis sensor yang memungkinkan sistem otonom, Sistem otomotif otonom jaringan cerdas aplikasi, pemantauan medis, sistem kontrol proses, robotika terdistribusi, dan pilot avionik otomatis.

Dikatakan oleh Soundra Pandian, bahwa IoT merupakan semua hal tentang informasi, data yang dikumpulkan dari perangkat, kendaraan, peralatan, tertanam dengan sensor, perangkat lunak dan konektivitas jaringan, sehingga mereka dapat mengumpulkan, bertukar, dan bertindak berdasarkan data, yang seringkali terjadi tanpa campur tangan manusia. Terlebih, untuk dapat terhubung suatu objek harus dapat menangkap data secara otomatis dan melakukan pemrosesan untuk menampung data analitik mengirimkan data.

Dalam hal ini jaringan dan tautan komunikasi membutuhkan tindakan kriptografi untuk melindungi data selama transmisi. Kriptografi merupakan sebuah studi dan metode untuk melindungi kerahasiaan, integritas, ketersediaan data. Yang mana kerahasiaan ini dimaksudkan untuk menyembunyikan informasi dari akses yang tidak sah, sedangkan integritas untuk mencegah informasi dari modifikasi yang tidak sah, sementara ketersediaan adalah untuk memastikan bahwa pengguna yang berwenang dapat mengakses informasi saat dibutuhkan.

“jadi poin-poin ini memiliki masalah untuk implementasi teknologi keamanan pemeliharaan hingga pemrosesan data,” ungkap Soundra Pandian.

Masih dalam pemaparannya, Ministry of Electronics and Information Technology, Office of CCA, New Delhi, India, menjelaskan bahwa penggunaan IoT dalam CPS yakni sebagai Next Evolution, can Communicate, can be Uniquely Identified & controller sensor and actuator.  IoT sebagai sebuah jaringan sederhana pada ‘Cyber Physical Things’ ini untuk mentransfer informasi. “Maka dalam hal ini bagaimana teknologi yang muncul tersebut dapat menganalisis data untuk mengoptimalkan analitik data,” ucapnya.

Oleh karenanya, tantangan IoT dan Data di era industri 4.0 IoT tidak memberikan potensi penuh karena tantangan data, sepenuhnya menangkap dan menganalisis data IoT secara tepat waktu, selain itu pemangku kepentingan dalam peran bisnis mengatakan data penting untuk proyek IoT mereka.

Tantangan selanjutnya ialah mengumpulkan dan menganalisis data IoT, terlalu banyak data untuk dianalisis secara efektif, sulit untuk menangkap data di tempat pertama, data tidak ditangkap dengan andal dan terlalu lambat untuk digunakan. Untuk itu, kita perlu berkolaborasi bai kantar pemerintah maupun industri juga masyrakat untuk bersinergi mewujudkan dunia yang cerdas aman dan terpercaya sesuai dengan tema besar yang diusungkan ABDI.

“Di era inilah anak muda dapat memimpin gerakan revolusioner menggunakan teknologi AI dan blockchain dengan nilai tambah untuk mengantarkan ekonomi digital suatu negara,” tutupnya.

 

 

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.