Strategi BCA Dalam Meningkatkan Keamanan Data

0
725
Potret Head of Enterprise Security, PT. Bank Central Asia Tbk (BCA) Thomas Lahey, dalam acara Websummit DataSecurAI 2022, (29/03/22)

Tentunya semakin aman, biasanya akan semakin tidak nyaman dan begitu pun sebaliknya, sehingga hal ini tentu harus menyeimbangkan antara keamanan, kenyamanan dan biayanya,”

Jakarta, Komite.id – Selama tahun 2021, kegiatan transaksi ekonomi dan keuangan digital nyatanya terus mengalami perkembangan seiring dengan meningkatnya preferensi masyarakat dalam belanja online. Bersamaan dengan itu, adanya kemudahan sistem pembayaran digital serta akselerasi digital banking, membuat masyarakat mulai beralih dari fisik ke digital. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan hal ini berpotensi untuk mendorong pemulihan ekonomi dan mempercepat pembentukan ekosistem ekonomi dan keuangan digital.

Kondisi ini menyebabkan meningkatnya transaksi online seiring dengan pesatnya penggunaan mobile internet dan connected devices. Dalam event Websummit DataSecurAI 2022 yang mengusung tema besar “Building Secure & Trusted Intelligent World”, Head of Enterprise Security, PT. Bank Central Asia Tbk (BCA) Thomas Lahey sebagai salah satu panelist di hari pertama (Day 1) memberikan materi tentang “Information Security by Financial Service Industry Perspective” khususnya di perbankan.

Saat ini wabah pandemi COVID-19 telah merubah beberapa aspek kehidupan di dunia. Menurut Head of Enterprise Security BCA, terdapat banyak hal yang sudah terjadi di dunia perbankan, pertama terjadinya peningkatan transaksi digital dari Physical to digital. Sehingga transaksi di beberapa cabang semakin dikit, sementara di e-channel meningkat sangat drastis. “Tentunya digitalisasi ini didukung oleh startup company juga seperti Gojek, Grab atau OVO, yang sudah lebih dulu melakukan digitalisasi, contohnya penggunaan QR,” jelas Thomas Lahey, saat memberikan materi dalam Websummit DataSecurAI 2022, Selasa (29/03/22).

Kedua, lanjut Thomas, dengan seiringnya perpindahan transaksi ke dunia digital, kriminal pun juga berubah. Yang awalnya mengharapkan cash dari sebuah toko atau juga gerbang tol kini bertransformasi menjadi cybercriminal. Ketiga, bukan hanya criminal tetapi juga cyberattack seperti DDos attack, Phising email, dan lain-lain yang juga meningkat.

“Kita bisa lihat dalam dunia cyber tidak adanya penurunan, melainkan semakin banyaknya ransomware. Dengan tingginya Cybercriminal ini, kami tidak tinggal diam. Kami tentunya membuat strategi untuk meningkatkan pengamanan yaitu pengamanan cyber dan melakukan edukasi. Di mana kita harus melakukan peningkatan pelindungan asset informasi dari network, datasecurity, application security dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Dijelaskan oleh Head of Enterprise Security BCA, awareness menjadi penting karena secanggih-canggihnya keamanan, tetap memiliki kekurangan. Terdapat tiga faktor yang selalu dijaga BCA diantaranya keamanan, kenyamanan dan harga dari solusi yang akan digunakan.

“Tentunya semakin aman, biasanya akan semakin tidak nyaman dan begitu pun sebaliknya, sehingga hal ini tentu harus menyeimbangkan antara keamanan, kenyamanan dan biayanya,” tandasnya.

Selain itu, availablility menjadi kunci dalam hal keamanan data. Bahwasanya data sangat penting, di mana setiap hari terdapat puluhan juta transaksi digital di BCA. Sehingga data pribadi menjadi sangat penting dan selalu menjadi fokus untuk menjaga data-data transaksi maupun kerahasian data nasabahnya.

“Kami sangat mendukung adanya Rencana Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) yang saat ini sedang dikerjakan pemerintah maupun DPR, di BCA juga kami sedang mempersiapkan hal-hal apa saja yang akan kami lengkapi dengan adanya RUU PDP,” tuturnya.

Tak hanya itu, menurut Thomas, dengan adanya regulasi baik dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang senantiasa mendukung BCA untuk memelihara stabilitas maupun keamanan di instistusi keamanan yang mana hal tersebut pengawasan dan masukan kepada BCA. Terlebih, di tahun ini, Indonesia Presidensi G20 2022 menetapkan tema “Recover Together, Recover Stronger”, terdapat salah satu topik yang dibahas dalam forum Digital Economy Working Group G20 tentang ‘Peningkatan dari segi digital ekonomi’.

Seperti yang diketahui, Indonesia merupakan salah satu pengguna aktif internet. Jumlah pengguna sudah melebihi 8 jam per hari, penggunaan tersebut biasanya digunakan untuk mengakses media sosial dan entertainment, sehingga dalam hal ini Thomas Lahey mengungkapkan bahwa penggunaan internet diharapkan dapat lebih ditingkatkan digunakan secara produktif, seperti meningkatkan akses ke dunia perbankan, tidak hanya di perkotaan tetapi juga di seluruh pelosok Indonesia.

Dengan adanya pertumbuhan digital ekonomi, tentu akan semakin banyak data dan pengolahan data akan sangat membantu, terutama dalam hal Big Data, Artificial Intelligence, Machine Learning, Virtual Reality, Blockchain, NLP dan lain-lain. Oleh karenanya, akan lebih baik jika dilakukan peningkatan digital security & Data Privacy seiring dengan peningkatan transaksi Cross Border Data Flow yang juga dibahas dalam forum DEWG G20.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.