Demi Wujudkan Program Gratieks, Barantan Dukung Ekspor Sarang Burung Walet Ke Tiongkok

0
904

Sarang Burung Walet merupakan salah satu komoditas unggulan yang digunakan sebagai bahan baku makanan dan minuman dengan tingkat konsumsi yang tinggi di negeri Tiongkok.

JAKARTA, Komite.id – Badan Karantina Pertanian Soekarno Hatta bersama PT. Aqua Birdnest Indonesia melepas ekspor Sarang Burung Walet (SWB) ke China pada Senin (28/12). Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Imam Djajadi, SP., MM., memimpin pelepasan ekspor komoditi tersebut, yang mana hal ini menjadi salah satu peluang ekspor besar dengan mengenalkan produk lokal yang ber nilai ke mancanegara.

“Potensi besarnya sarang burung walet ini bisa menjadi salah satu contoh bagi para pelaku usaha lainnya untuk memanfaatkan peluang yang ada,” ucap Imam Djajadi saat mengikuti kegiatan Pelepasan Ekspor Sarang Burung Walet Karantina Pertanian Soekarno Hatta ke China di Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara.

Menjelang tutup tahun 2021, sebanyak 205,5 kg senilai 3 M ekspor SWB dilakukan secara perdana oleh PT. Aqua Birdnest Indonesia. Pihak perusahaan tersebut sangat mengapresiasi kinerja Karantina Soekarno Hatta yang mendukung sepenuhnya dengan memimpin persyaratan teknis ekspor SBW ke Tiongkok. SBW kali ini dipastikan telah memenuhi persyaratan negara tujuan sampai diterbitkannya Sertifikat KH-12.

Menurut Imam, Sarang Burung Walet merupakan salah satu komoditas unggulan yang digunakan sebagai bahan baku makanan dan minuman dengan tingkat konsumsi yang tinggi di negeri Tiongkok tersebut. “Kami berharap ekspor SBW ini berkelanjutan, sejalan dengan program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) yang dicanangkan Kementerian Pertanian RI,” tutur Imam.

Selain China, PT. Aqua Birdnest Indonesia sebelumnya juga pernah mengekspor SWB ke Singapura, Malaysia, Jepang, Amerika, Kanada dan Eropa. Sebagai owner PT. Aqua Birdnest Indonesia, Edward Helmy Dardo mengaku bahwa selama melakukan ekspor perdana di masa pandemi ini dirinya mengalami banyak kendala seperti pengurusan izin pada instalasi pemrosesan hewan, Kementerian Perdagangan, perizinan dari Karantina dan lain sebagainya. Namun hal itu tidak menjadi halangan baginya sehingga kini perusahaan miliknya bisa menjadi salah satu perusahaan baru yang menembus pangsa pasar negara Panda tersebut.

Pria yang akrab disapa Helmy menjelaskan bahwa hal ini memberikan keuntungan bagi Indonesia. “Keuntungan untuk kami sendiri bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan memperluas UMKM di daerah setempat serta dapat memberikan sumbangsih ke negara ini yang mana bisa mendapatkan keuntungan dari hasil budidaya sarang burung walet sebagai sumber pendapatan alam yang harus dikelola, dijaga dan dilindungi,” jelasnya.

Oleh karena itu, kegiatan ekspor SWB tentunya mendapat dukungan dari banyak pihak terutama Kemendag. Dimana kegiatan pelepasan ekspor seperti ini diharapkan dapat terus dilakukan, terutama ekspor pada produk-produk berbasis UMKM. Dikatakan Wamendag, Indonesia merupakan negara penghasil sekaligus eksportir tertinggi sarang burung walet di dunia. Berdasarkan trademap tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai eksportir sarang burung walet di dunia.

Sebagai informasi, Indonesia sebagai 80% sentral sarang burung walet dunia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor komoditas SBW bersama dengan komoditas aromatik, rempah, dan hasil hutan turut menyumbang terhadap peningkatan ekspor sektor pertanian di bulan Januari 2021. Tercatat ekspor pertanian pada bulan Januari 2021 tumbuh 13,91% (YoY). Untuk itu, pemerintah perlu mendorong potensi ekspor komoditi lainnya khususnya SWB.

“Tetap semangat dan berani ekspor menembus pangsa pasar mancanegara,” tutup Imam. (red)

 

 

 

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.