Skenario Perang BioTeknologi : Perang Dunia III melawan COVID 19 ?

0
476

Konspirasi Teori: Asal Lab Virus
Jakarta, Komite.id- Banyak kontroversi konspirasi teori dimulai oleh pihak AS era Trump yang menuduh Tiongkok, khususnya laboratorium atau Pasar Hewan kota Wuhan yang memicu awal dari Pandemi virus Covid 19 atau SAR Cov2 atau Corona Virus. Sebaliknya Tiongkok juga membalas & menuduh Laboratorium AL AS Naval Medical Research (NAMRU), apakah disengaja atau tidak.

Sebagai informasi, NAMRU-2 secara resmi terdaftar dibawah Komando Pusat Riset Medis Angkatan Laut A.S. (Naval Medical Research Center) yang berlokasi di Silver Spring, Maryland, A.S. dan diperhitungkan sebagai pusat jaringan laboratorium- laboratorium yang terdapat di berbagai lokasi di dunia. NAMRU-2 beroperasi di beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Vietnam, Laos, Singapura, Filipina, Thailand, Jakarta dan Kamboja.
Di Phnom Penh, Kamboja, NAMRU-2 dibuka, dilengkapi, dan dioperasikan sebagai laboratorium satelit untuk melakukan riset kemungkinan wabah penyakit-penyakit menular dalam cakupan regional, sementara lokasi laboratorium lainnya didunia termasuk Peru, Kenya, dan Mesir.

Sementara NAMRU-2 yang sebelumnya beroperasi di Indonesia ditutup oleh Menkes Dr Siti Fadilah Supari, dan direlokasikan ke Pearl Harbor, Hawaii, sebagai NAMRU-2 Pacific pada 17 Juni 2010, dan ditutup pada tahun 2013., Sebagai informasi, Internet, Cyberspace, Big Data, Dark Web, TOR semua adalah bantuan dari Kementrian Pertahanan AS, ARPANET.
Karena sulit memperoleh bukti, mari kita asumsikan virus ini berawal dari alam semesta menggunakan teori evolusi Charles Darwin, dimana setiap spesies mempunyai kode DNA atau RNA yang unik, seperti algoritma computer atau AI, yang terus berevolusi, belajar (seperti ML) dan bertahan hidup, survival of the fittest, baik si virus Covid maupun antibody atau imun sistem dari manusia.

Kalau diamati anjing kucing peliharaan manusia yang meninggal karena Covid pun, aman dan dapat bertahan hidup, artinya mempunyai kode DNA yang imun terhadap Covid 19. Covid 19 terus bermutasi melahirkan varian varian baru Alpha, Beta, Gama, Delta, Kappa dari UK, India, Afrika, Peru yang RNA nya semakin canggih.

Manusia di zaman modern 2021, dalam setahun berhasil merubah RNA virus Covid 19 menjadi virus yang jinak dan dapat menstimulasi DNA antibody imun system manusia. Jadi teknologi manusia hingga saat ini belum bisa disebut Sang Pencipta membuat RNA virus atau anti virus, baru bisa mengotak atik RNA virus yang ada dengan algoritma jinak tidak menyerang paru paru manusia tapi membangunkan sel darah putih anti bodi yang ada membentuk semacam covalescent atau DNA anti body yang sukses dari Manusia yang berhasil sembuh dan menang perang melawan Covid 19.

Covalescent juga termasuk ciptaan alam semesta dari tubuh manusia yang berhasil melawan virus, mungkin sama dengan antibody dari binatang kucing dan anjing yang ‘menter’ tidak terganggu oleh serangan virus Covid 19. Perlu juga dipelajari apa kelebihan DNA kucing dan anjing, sehingga kebal terhadap Covid 19.

Benchmarking Spanish Flu 1 Abad Silam

Dunia juga pernah dilanda Pandemik Sistemik Flu Spanyol yang menyebabkan banyak koraban sebelum perang dunia ke II tahun 1918. Indonesia ketika itu jajahan Belanda. Data yang ada minim di Jawa & Madura, di Surabaya korbannya mencapai 1juta orang artinya jauh lebih parah dair Covid 19 Sedangkan seluruh Nusantara ada 4.5 juta yang meninggal, majoritas di Jatim 100 tahun yang lalu.

Ketika itu dunia medis sangat kuno, tidak banyak obat, apalagi vaksin. Namun setelah 3 tahun menghilang dengan sendirinya, manusia menang & survive, maka dunia dapat dikatakan bebas dari pandemic Spansh Flu setelah 1921, 100 tahun yang lalu setelah korban yang meninggal dan sembuh mencapai jumlahnya yang signifikan dari jumlah penduduk ketika itu.

 

Pandemi Covid 19 saat ini yang meninggal 70192 (0.2 permil) dan yang infeksi 2.73 juta (1%), tidak seganas Flu Spanyol. Total Angka yang sebuh dari Covid cukup menggembirakan hampir setara dengan yang infeksi yaitu 2,18 juta (0.93%).

Perang Dunia ke III melawan Pandemi Virus SARS COV2
Perang Dunia adalah perang yang melibatkan banyak negara besar diberbagai penjuru dunia, seperti PD I melanda seluruh Eropa dan PD II menyebar ke Eropa, Afrika, AS bahkan Jepang di Asia dan Pasifik dan korbannya pun banyak baik jiwa maupun asset.

Manusia seluruh dunia kini harus berperang melawan musuh yang sulit dilihat, karena PD ke III ini adalah perang yang melibatkan manusia dan negara diseluruh dunia melawan musuh biologi yaitu Virus Covid 19 yang sudah masuk kedalam kategori Pandemi (mendunia) sejak setahun yang lalu dideklarasikan oleh WHO. Korban per 16 July 2021 sudah mencapai 188 juta, setiap hari bertambah hampir 500,000 korban berjatuhan dan 4juta lebih yang meninggal.

Tidak terlalu berlebihan jika ABDI menyebutnya sebagai PD III dimana seluruh negara didunia harus berhadapan dengan musuh mikro biologi Covid 19 dengan berbagai varian dari yang Alpha hingga yang Betta dan Kappa dari mutase di UK (Eropa), Afrika, Peru (Amsel) dan India (Asia).

Hipotesa SarsCov2 (Covid 19) berakhir 2022.
Dari deskriptif analytics, di ajukan Hipotesa bahwa Flu Covid mungkin juga akan berakhir setelah banyak yang sembuh dan meninggal mungkin juga pada tahun ke 3, artinya tahun depan setelah banyak yang sudah terkena dan sembuh ataupun banyak yang meninggal. Silahkan para pakar menguji hipotesa ini.

Tubuh dari yang sembuh akan menghasilkan antibody imun system, seperti penyakit cacar air yang akan menyerang setiap orang, namun akan sembuh dengan sendirinya karena manusia memiliki anti bodinya. Plasma dari korban yang sembuh (convalescent plasma covid19) yang dapat menghasilkan antibody bagi korban yang sakit.

Selama setahun, tahun 2020 banyak korban majoritas tidak kita kenal, namun menjelang gelombang kedua di tanah air setelah bulan Mei kabarnya dengan merebaknya varian baru UK & India, maka korban mulai berjatuhan dekat dengan keluarga, sahabat yang kita kenal. Memprihatinkan.

Namun kabar menyejukkan akhir akhir ini banyak keluarga, sahabat, staf kantor yang terkena Covid majorits mulai sembuh, namun juga setiap hari terdengar pengumuman di masjid tetangga atau dari WAG ada yang meninggal dunia.

Perang memang selalu membawa korban baik nyawa, mendisrupsi kehidupan manusia dan melumpuhkan Ekonomi Dunia dan Indonesia. Namun dari sejarah (jasmerah) badai pasti akan berlalu. Be a Survival !.

BTW, saya tidak punya keahlian biologi atau pun ilmu kedokteran, karena saya hanya seorang electrical engineer yang mengamati beberapa rekan yang telah meninggal dan juga banyak yang sembuh atau yang sukss bertahan melawan Covid 19.

Jadi CMIIW, karena ini hanya sebuah tulisan untuk memberi semangat (Jiayou), karena keprihatinan dan doa kepada teman, keluarga, sahabat yang telah meninggal dunia. Tulisan ini dipersembahkan (courtesy) untuk mengenang yang sudah mendahului kita. Tulisan ini hanya observasi atau descriptive analytics, yang non ilmiah dan non kuantitatif, alias kualitatif saja menggunakan secondary data dari banyak narasumber dengan membaca fenomena Pandemi virus Covid 19 yang ada.

Jadi kepada para pembaca terus bertahan, stay healthy terapkan protocol kesehatan (prokes) se ketatnya, karena badai pasti akan berlalu. Dari descriptive analytics dan hipotesa ABDI, diperkirakan tahun depan. So be a survival. There’s got to be a morning after… Jiayou Indonesia. GBU Indonesia. (RR)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.