e-Fishery bertransformasi Jadi aquaculture intelligence

0
90

Jakarta, Komite.id- Indonesia Agritech Report 2020 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan produsen agrikultur terbesar di dunia, namun seringkali mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan produksi pangan bagi 260 juta orang penduduknya. Di tahun 2050, populasi manusia diprediksi akan meningkat menjadi 10 milyar di seluruh dunia dan diperkirakan produksi pangan global akan membutuhkan peningkatan substansial sebesar 70 persen. Permasalahan ini lah yang menjadi salah satu fokus utama eFishery, startup akuakultur asal Bandung, untuk diselesaikan.

Sejak didirikan di tahun 2013, eFishery mengusung visi untuk menjadikan akuakultur sebagai sumber protein utama di dunia. Pada awal kemunculannya, eFishery menyediakan solusi berupa IoT (Internet of Things) bagi pembudidaya ikan dan udang melalui alat pemberi pakan ikan dan udang otomatis atau auto feeder yang dapat dioperasikan melalui smartphone. Pengaplikasian alat ini di kolam budidaya terbukti mampu mengefisienkan penggunaan jumlah pakan dan mempercepat siklus panen sehingga pendapatan pembudidaya pun meningkat.

“Saya dapat menghemat pakan hingga 10 persen setiap siklusnya dan panen pun menjadi lebih cepat 74 hari setelah menggunakan feeder ini. Penghasilan saya pun ikut naik hingga 45 persen,” ungkap Suhardi, pembudidaya ikan patin di Kalimantan.

Kini produk eFishery telah mendukung puluhan ribu kolam ikan di lebih dari 180 kota, yang berpusat di 24 provinsi di seluruh Indonesia. Lebih dari 5.000 unit eFisheryFeedertelah tersebar di seluruh Indonesia dan lebih dari 1.500 pembudidaya ikan dan udang telah merasakan manfaat dari teknologi ini.

eFishery, yang berulang tahun ke-7 di bulan Oktober ini, telah bertransformasi menjadi perusahaan aquaculture intelligence pertama di Indonesia dan merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Selain eFisheryFeeder, eFishery juga mengeluarkan layanan lainnya yang dapat mendukung usaha pembudidaya ikan dan udang di Indonesia sehingga dapat menjadi lebih berkembang.

Kami selalu mencari cara untuk dapat lebih mendukung para pembudidaya. Setelah melalui diskusi di lapangan, ternyata banyak pembudidaya yang mengungkapkan bahwa mereka kesulitan dalam mendapatkan akses pendanaan dari institusi finansial karena budidaya ikan termasuk sektor usaha yang high risk,” kata Gibran Huzaifah, CEO dan Co-founder eFishery. “Selain itu, banyak juga yang mengeluh kesulitan untuk menjual hasil panen sehingga mereka terpaksa menjual ke tengkulak dengan harga yang sangat rendah. Jadi tahun lalu kami mulai mengembangkan produk bernama eFisheryFeed, eFisheryFund, dan eFisheryFresh.”

eFishery melalui eFisheryFeed bekerjasama dengan berbagai merek pakan ikan dan udang untuk memastikan distribusi pakan yang lebih mudah. Pembudidaya dapat menyesuaikan jenis pakan yang sesuai dengan kebutuhan karena merek pakan yang tersedia lebih variatif. Selain itu, pembudidaya juga dapat memperoleh pakan dengan harga yang kompetitif. Saat ini, ratusan pembudidaya membeli pakan melalui eFisheryFeed secara reguler.

eFisheryFund pun hadir dari keresahan para pembudidaya akan sulitnya mengakses layanan pembiayaan/finansial dari berbagai lembaga keuangan yang ada. Pada umumnya, lembaga keuangan enggan memberikan pinjaman untuk pekerja di sektor non-formal seperti pembudidaya ikan. eFisheryFund menghubungkan pembudidaya ikan secara langsung dengan lembaga keuangan untuk meningkatkan akses mereka terhadap pendanaan.

Komponen utama eFisheryFund adalah eFisheryKabayan (Kasih, Bayar Nanti) yang mengusung sistem yang serupa dengan sistem paylater. eFisheryKabayan merupakan sebuah fasilitas yang menyediakan pembiayaan bagi pembudidaya ikan yang dapat digunakan untuk mendapatkan produk-produk eFishery, termasuk eFisheryFeeder dan eFisheryFeed. Sekitar 80 persen dari biaya produksi dihabiskan untuk pembelian pakan sehingga dengan skema ini pembudidaya diharapkan dapat terbantu dalam pengelolaan biaya pakan.

Hingga saat ini, lebih dari 500 pembudidaya telah didukung oleh eFisheryFund. Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, loan approval eFisheryFund mencapai hingga 50 Milyar rupiah demi mendukung usaha para pembudidaya, khususnya di tengah pandemi Covid-19. “Kalau tidak ada Kabayan, budidaya saya tutup saat pandemi kemarin karena kehabisan modal,” ujar Baban, pembudidaya ikan mas di Pamijahan, Bogor.

Untuk mendukung layanan di hilir, eFishery menghadirkan eFisheryFresh sebagai platform online untuk menghubungkan pembudidaya ikan dan udang dengan pelanggan mereka (baik konsumen akhir hingga pedagang). Layanan ini memungkinkan kedua pihak, baik pembeli maupun pembudidaya, mendapatkan harga yang baik dan transparan.

“Selama beberapa dekade, saya berjuang mengurus kolam saya sendiri. Untungnya, saya kemudian menemukan eFishery. Sekarang pekerjaaan saya menjadi lebih ringan dan efisiensi pemberian pakan meningkat hingga 20%. Saya juga tidak lagi bingung menjual ikan kemana, karena eFishery juga mengakomodasi pendistribusian ikan. Dengan begitu, saya bisa tetap tenang dan penghasilan saya tetap stabil,” kata Mastria, pembudidaya ikan lele di Cirebon.

Akuakultur dinilai sebagai sektor yang paling efisien dan berkelanjutan dibandingkan dengan produsen protein hewani lainnya, seperti daging sapi dan unggas. Selain itu, Indonesia sendiri sebagai produsen produk akuakultur terbesar kedua di dunia setelah China, dinilai memiliki potensi hingga 1.2 Trilyun US Dollar di sektor perikanan tangkap dan budidaya. Kehadiran startup perikanan seperti eFishery diharapkan mampu mengoptimalkan dan meningkatkan potensi yang ada saat ini. (red)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.