Digitech Indonesia 2018 Dorong Transformasi Digital

0
58

Jakarta, Komite- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang diwakili Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Herry Abdul Azis bersama Menteri Perindustrian yang diwakili oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara resmi membuka acara Digital Technology Indonesia atau Digitech Indonesia, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (29/11).

Acara yang digelar Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) dan Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS), bertema “Digital Transformation & Industry 4.0”. Digitech yang berisi konferensi, pameran yang membahas teknologi yang akan menjadi tren dalam beberapa tahun ke depan. Acara ini hadir untuk membantu perusahaan untuk memilih dan merencanakan teknologi yang tepat untuk menunjang bisnis mereka sehingga menjadi kompetitif menuju industri 4.0.

Disampaikan Rudi Rusdiah mewakili ABDI (Asosiasi Big Data & AI) sebagai moderator dalam diskusi dengan tema “Digital Transformasi & Industry 4.0” menyampaikan mengenai beberapa dampak yang dihadapi di Indonesia, dii era ekonomi digital.

Menurutnya, digital transformasi dan industry 4.0 harus disikapi dengan bijak, karena berdampak pada banyaknya pengangguran mengingat banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh teknologi IT seperti penjaga pintu tol, teller bank oleh ATM, bisnis agen travel oleh travel online.

“Apalagi dengan AI kedepan maka profesi dokter, konsultan hukum dapat dengan mudah digantikan oleh mesin (robot), meskipun tentu banyak profesi baru bermunculan,” kata Rusdiah.

Sementara itu, Dr Ilham Akbar Habibie Ketua Pelaksana Wantiknas menjelaskan lebih detail bagaimana digital transformasi yang mempengaruhi banyak industri.

Masya Juwita dari Data & AI Manager dari Microsoft Indonesia lebih fokus pada transformasi memanfaatkan clouds baik hibrid, private dan publik clouds. Produk Microsoft Azure juga banyak bekerjasama dengan perusahaan lokal antara lain Telstra Indonesia, Datacomm dan comply dengan peraturan PP 82 / 2012 yang mengharuskan perusahaan pelayanan publik menaruh datacentrenya di Indonesia. Microsoft juga di Eropa comply dengan EU GDPR dan peraturan domestik dari negara dimana Microsoft menjalankan bisnisnya.

Disisi lain, Deputi IV BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), Mayjen TNI (Mar) Dr Suharyanto memaparkan mengenai “Securing Your Digital Bisnis” karena ketika kita memasuki era big data dan cyber, maka selain banyak faktor benefit juga harus diperhitungkan bahwa dunia kriminal dan bawah tanah (deep web & dark web) pun turut serta memanfaatkan cyberspace. Jadi perusahaan dimasa depan harus dapat mengantisipasi serangan siber yang semakin masif.

Alex Budiyanto, chairman Asosiasi Cloud Computing Indonesia) menekankan perlunya adanya kolaborasi antara industri dan akademisi untuk mempersiapkan SDM memasuki era Industry 4.0.

Sementara itu, Ketua Umum APTIKNAS Soegiharto Santoso mengatakan, dalam membangun industi 4.0 bukan membangun teknologinya, karena teknologinya sudah ada, namun bagaimana kita membangung mindset, mengubah pola pikir para pucuk pimpinan institusi agar bisnis proses dari bawah dapat berjalan dengan bantuan teknologi.

“Membangun mindset dalam menciptakan aplikasi-aplikasi agar menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. Jangan sampai kita kita hanya menjadi pangsa pasar untuk pemain-pemain global, seperti Google, Facebook, Twitter , Youtube dan lain-lainnya,” kata Soegiharto Santoso yang akrab disapa Hoky

Hal ini, Lanjut Hoky, tentu menjadi tantangan sekaligus peluang yang begitu besar. Karenanya, bangsa ini harus mau membantu mengubah mindset anak-anak muda generasi milenial untuk menciptakan aplikasi-aplikasi khas Indonesia, yang bermanfaat untuk bangsa ini.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.