Perlu Komitmen Bersama Mengejar Industri 4.0

0
145

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti
Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si,

Pemerintah telah meresmikan roadmap (peta jalan) menuju era baru industri generasi ke-empat atau industri 4.0. yang disebut Making Indonesia 4.0. Semua pihak diminta berpartisipasi untuk sama-sama mengejar kesiapan dalam memasuki era baru ini, termasuk Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), terutama dari aspek penguatan inovasi riset dan peningkatan sumber daya manuisa (SDM).

Dunia kini tengah memasuki era baru, revolusi industri 4.0 atau revolusi industri dunia keempat, dimana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi tumpuan utama dalam berbagai kegiatan industri dan bisnis yang menuntut kesiapan dari setiap negara agar bisa terus bersaing di kancal global. Tak terkecuali Indonesia, dimana Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada acara “Industrial Summit di Jakarta Convention Center, 5 April 2018, juga telah mencanangkan roadmap (peta jalan) menuju industri 4.0 yang disebut Making Indonesia 4.0 yang juga telah ditetapkan sebagai agenda nasional.

Presiden berharap, dengan penguatan Industri 4.0 tersebut bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru di industri yang digerakan teknologi digital. Making Indonesia 4.0 menjadi strategi Indonesia dalam membangun industri manufaktur yang memiliki standar global melalui percepatan dalam membangun konektivitas melalui teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi.
Upaya menuju akselerasi industri 4.0 juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, dan yang tak kalah penting juga dari lembaga riset dan pendidikan, termasuk kalangan akademik. Untuk implementasi industri generasi keempat ini, tentunya juga harus diikuti dengan pembentukan ekosistem yang sehat dan berkesinambungan, agar efektif dan dapat menggerakkan seluruh sektor ekonomi di Tanah Air.

“Jadi sifatnya ini lintas sektoral, sehingga perlu komitmen bersama untuk sama-sama berupaya mendukung terwujudnya era baru revolusi industri 4.0 ini. Tentu semua harus mengacu pada roadmap yang sudah disepaki supaya lebih efektif dan cepat untuk mewujudnkannya. Dalam proses transisi industri ini, tentu perlu penguatan inovasi kegiatan riset dan juga kesiapan dari SDM. Dan inilah yang menjadi ranah dan fokus kerja dari Kemenristekdikti saat ini,” ungkap Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si, dalam sesi wawancara khusus, di kantornya, belum lama ini.

Dalam berbagai kesempatan, Menristekdikti Mohamad Nasir menyatakan, bahwa era revolusi industri 4.0 harus direspon secara cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk seluruh jajaran Kemenristekdikti. Berbagai kebijakan strategis akan dirumuskan, mulai dari pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan program studi dan kurikulum di kalangan Perguruan Tinggi, riset, serta berbagai pengembangan inovasi. Terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era revolusi industri yang sangat dipengaruhi penggunaan teknologi digital dan mesin robotik dalam satu sistem yang terintegrasi.

“Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti di tahun 2018 ini juga terus mendorong tumbuh dan berkembangnya inovasi dalam rangka meningkatkan perekonomian menuju industri 4.0. Kalau industri kita bisa menghasilkan produk dengan biaya yang ringan berkat dukungan teknologi modern, maka harga jual akan kompetitif dan tentu daya saing meningkat,” ujar Dr. Ir. Jumain Appe,

Dijelaskan, pada dasarnya revolosi industri 4.0 merupakan kelanjutan dari revolusi industri sebelumnya, yakni sejak revolusi industri I – III. Dampak revolusi industri 4.0, akan jauh lebih dahsyat dari revolusi industri pertama pada abad ke-19. Industri 4.0 merupakan era di mana teknologi digital, internet, sistem robotic, data, artificial intelligence (AI) kian memainkan peran penting dalam kegiatan industri dan bisnis.

Sesuai roadmap industri 4.0 yang telah dibuat Kementerian Perindustrian, terdapat lima sektor yang menjadi prioritas. Di antaranya industri makanan minuman (mamin), elektronik, otomotif, kimia, dan tekstil dan produk tekstil, termasuk untuk mendukung pariwisata. Sejalan dengan hal tersebut, jajaran Kemenristekdikti, termasuk Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi juga melakukan srategi maupun kebijakan yang fokusnya juga untuk mendorong percepatan dalam memasuki era industri 4.0 ini.

“Sebenarnya yang kita tuju ini kan peningkatan daya saing produk melalui proses yang lebih efisien dan efektif, sehingga harga jualnya lebih kompetitif berkat penggunaan teknologi otomatisasi dan robotik dalam peroses industri. Tentu proses transisi ini bisa dihadapi dengan lebih baik bila ada persiapan matang dan didukung SDM yang bisa diandalkan. Makanya perlu perubahan dan inilah pentingnya penguatan inovasi ini,” ujarnya.

Diakui untuk mengejarnya, memang harus kerja keras. Karena itu, perlu dukungan semua pihak terkait dengan strategi dan terobosan tersendiri dalam menghadapi era Industri 4.0 ini. Dalam kaitan ini, katanya, semua Perguruan Tinggi (PT) diminta untuk segera menyesuaikan diri, dalam hal misalnya penyesuaian kurikulum maupun program studi, agar disesuaikan dengan kebutuhan untuk menuju revolusi industri 4.0 ini. Terutama dengan menyertakan muatan yang ada relevansi dengan internet (Internet of Things-IoT), Big Data, software engineering, robotic, dan lainnya.

“Dalam kaitan ini, kita juga memberi otonomi yang lebih luas kepada setiap Perguruan Tinggi untuk menyusun perencanaan program studi, maupun perbaikan kurikulum untuk mendukung industri 4.0. Misalnya jika membuka juruan tertentu, dulu harus dapat izin, sekarang prosesnya lebih simpel. Tentunya mereka juga harus bertanya ke industri mengenai kebutuhan apa saja yang mereka butuh, sehingga output SDM-nya benar-benar bisa memenuhi kebutuhan dunia industri,” ujarnya.

Hal ini sejalan dengan upaya mengoptimalkan peran perguruan tinggi dalam menghilirisasi hasil pendidikan maupun kegiatan penelitan agar bisa memberikan manfaat keilmuwan bagi dunia industri dan masyarakat luas. Selain itu, juga bisa memberikan kontribusi atas keahlian dan penguasaan Iptek kepada para pemangku kepentingan dalam kerangka peningaktan daya saing di era Industri 4.0 sekaligus menjadi wahana pengembangan SDM terampil dan ahli yang siap terjun langsung pada kegiatan industri maupun dunia usaha.
Kesiapkan SDM (sumber daya manusia), mutlak harus diprioritaskan. Terutama kesiapan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Kemampuan penguasaan teknologi dibutuhkan agar Indonesia mampu menghasilkan produk-produk yang inovatif dan mampu bersaing dalam kompetisi global. Sehingga hal ini bisa menekan jumlah produk impor di berbagai sektor.

Dari sisi penguatan teknologi, setiap PT terutama juruan teknik, juga diarahkan agar bisa mendukung upaya percepatan lima industri yang telah di tetapkan dalam roadmap Industri 4.0. Misalnya untuk pertanian, materi kurikulum, pembelajaran, riset dan inovasi juga diarahkan untuk mendukung pertanian modern. Misalnya dari juruan teknik industri diarahkan agar bisa menghasilkan produk mesin traktor yang dikendalikan sistem otomatisasi. Karena bukan lagi mesin konvensional, sehingga perlu ada muatan baru tentang IoT, software engineering dan sistem pendukungnya.

Startegi ini sangat penting dalam upaya meningkatkan kapasitas penggunaan teknologi dalam kegiatan industri untuk meningkatkan produk yang lebih kompetitif, termasuk melalui inovasi dan riset. Inovasi tidak hanya sekadar pengembangan riset dan penciptaan kreatifitas, namun harus bisa diimplementasi di kalangan industri (commercialization process). Sehingga bisa menghasilan produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi yang lebih tinggi.

Dalam hal ini juga dilakukan pengembangan inovasi untuk modernisasi industri dengan mengembangkan risearch and developmant. Pihaknya menyoroti tentang industri Indonesia yang rata rata belum banyak mengembangkan penelitian terkait bidang usahanya. Dampaknya produk yang dihasilkan industri Indonesia, sulit bersaing dengan industri luar negeri.

Upaya lain yang dilakukan Diten Penguatan Inovasi, yakni dengan mendorong mendorong munculnya pengusaha pemula (start up) berbasis teknologi digital. Terutama mendorong start up dari kalangan perguruan tinggi dengan harapan banyak mahasiswa yang menekuni bidang usaha berbasis teknologi. Hal ini mengingat, lulusan perguruan tinggi Indonesia masih sedikit yang terjun ke bidang enterpreneur, hanya sekitar 3%. Sementara lulusan lainnya lebih banyak yang mencari kerja. Dia juga mengingatkan agar bisnis e-commerse Indonesia yang kian berkembang pesat, justru dinikmati pelaku bisnis dari luar negeri.

“Kita harus mendorong sektor produksi dalam negeri berbasis sumber daya alam lokal untuk diangkat di bisnis e-commerce. Dengan berbasis produk dan bahan baku dari negeri sendiri. Dampaknya diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dalam upaya meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di kancah global,” tandasnya. (red/Ju)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.