FiberStar Kejar Target 100 Kota Hingga Akhir Tahun

0
341

Penduduk Indonesia yang mencapai 262 juta orang saat ini dengan penetrasi pengguna internet yang baru 54,68%, potensi pengembangan jaringan broadband juga masih terbuka laus. Sebagai penyedia infrastruktur internet melalui kabel serat optik, PT Mega Akses Persada (FiberStar) kian terpacu meningkatkan mengakselersi pembangunan jaringan, tak hanya di kota-kota namun juga ke pedesaan sesuai tekad besar diusung perusahaan, yakni “Connecting Indonesia”.

Dalam beberapa tahun terakhir, penetrasi pengguna internet di Indonesia terus meningkat signifikan, terutama dipicu tren digital life style yang makin kuat di kalangan millenial. Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tahun 2013 pengguna internet baru 82 juta, namun tahun lalu sudah melonjak menjadi 143,26 juta atau 54,68% dari total jumlah penduduk yang ada. Namun demikian, penetrasinya masih belum merata, bahkan untuk rural, terbilang masih rendah.

Hasil survei tahun 2017 yang dirilis APJII menyebutkan, penetrasi pengguna internet berdasarkan kota/kabupaten, masih terkonsentrasi di area urban dengan persentase 72,41%. Disusul rural urban sebesar 49,49%), sedangkan untuk rural sebesar (48,25%). Penetrasi internet ini dilihat dari ketersediaan fiber optic dan infrastruktur pendukung lainnya yang menopang aktivitas berinternet di kalangan masyarakat.
Melihat masih tingginya gap kebutuhan jaringan internet ini, FiberStar selaku penyedia jaringan infrastruktur netral, bertekad mengakselerasi pembangunan jaringan, sekaligus sebagai upaya mendukung program pemerintah di bidang peningkatan adopsi internet. Pemerintah telah menyusun Rencana Pita Lebar Indonesia (RPI) tahun 2014-2019, di mana adopsi broadband hingga 2019 ditargetkan mencapai 71% di perkotaan dan 49% di daerah pedesaan.

“Kita akan pacu akselerasi pembangunannya sesuai fokus kita yakni sebagai penyediaan jaringan. Saat ini jaringan fiber optik yang kita bangun sudah menjangkau 72 kota, mulai dari wilayah Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera dan juga ada di Sulawesi yang panjangnya sekitar 3.500 km. Sampai akhir tahun targetnya bisa menjangkau 100 kota. Tak hanya membangun jaringan di jalur protokol, tetapi juga masuk hingga ke daerah kecamatan, bahkan juga ke tingkat desa-desa,” ungkap Direktur Komersial PT Mega Akses Persada (FiberStar), Thomas Dragono, di kantornya, baru-baru ini.

FiberStar merupakan perusahaan pengembang jaringan serat fiber optik pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memiliki Konsep Net Neutrality. Konsep ini memungkinkan berbagai perusahaan penyedia layanan telekomunikasi (ISP) dapat bergabung di jaringan yang disediakan FiberStar untuk menawarkan berbagai layanan kepada masyarakat. Dengan sistem ini, konsumen juga memiliki kebebasan untuk dapat memilih penyedia layanan telekomunikasi yang cocok untuknya dengan harga yang makin terjangkau.
“Tahun 2016 kami melakukan studi pasar mengenai impact positif dari jaringan yang kami bangun, di mana selama rentang satu tahun dengan jaringan yang dibangun FiberStar, harga paket broadband harganya turun hingga 60% dengan paket yang sama. Jadi ada provider yang menawarkan paket 100 mega dengan Rp1,3 juta, tetapi ada juga yang menawarkan harga Rp450 ribu. Jadi dengan kehadiran kami, ada saling kompetisi yang membuat harga makin terjangkau,” ujar Thomas Dragono.

Salah satu kelebihan jaringan fiber optik, yakni kemampuan mendeliver berbagai sumber data dan informasi komunikasi secara lebih cepat dengan kualitas tinggi yang lebih stabil. Dengan keunggulan ini, fiber optik menjadi solusi yang tepat untuk mendukung pengembangan jaringan internet berkualitas tinggi. Jaringan serat optik juga menjadi faktor utama dalam menyiapkan ekosistem digital di dalam sebuah kawasan yang dapat digunakan dalam penerapan segala aplikasi dari Internet Of Things (IoT). Seperti penerapan konsep smart home, smart office, smart building, itelligent building, dimana hal ini juga akan dapat meningkatkan kenyamanan bagi para penghuni maupun pemilik properti dan gedung yang bersangkutan.
Ditambahkan, sebagai penyedia jaringan netral, FiberStar akan terus berinovasi dalam menunjang kebutuhan telekomunikasi berbasis fiber optik bagi semua kalangan. Dalam pengembaangan jaringan, FiberStar menyasar pasar yang lebih beragam. Mulai proyek properti perumahan (residensial), gedung perkantoran, kawasan niaga pertokoan, industri dan lainnya.

Sehingga kehadirannya dapat memperkuat jaringan komunikasi digital yang lebih terintegrasi bagi semua kalangan. Dengan hadirnya Fiber Optik dengan kapasitas sampai dengan 1 Gbps yang dikembangkan FiberStar, akan sangat menunjang terwujudkanya smat city. Hal ini sekaligus untuk mendukung pemerataan adopsi Informatuion and Communication Technology (ICT) di Indonesia, termasuk di pedesaan maupun hunian modern melalui layanan jaringan Fiber to the Home (FTTH) yang belakangan banyak dilakukan para provider penyedia layanan internet.

Apalagi para pengembang (developer properti), belakangan juga banyak berlomba menawarkan jaringan internet kualitas tinggi untuk bermacam-macam jenis layanan multimedia hingga ke rumah -rumah melalui layanan Fiber to the Home ini. Jaringan FTTH menjadi solusi the Next Generation Networks (NGN) yang mampu menyediakan layanan triple play (data, voice dan video) dalam satu infrastruktur. Hal ini tentunya juga akan berdampak positif dalam pertumbuhan sosial dan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“FiberStar selama ini juga sudah banyak menjalin kerja sama dengan developer (pengembang) properti untuk mendukung pengembangkan jaringan FTTH dengan media serat optik hingga ke end user. Jadi instalasi fiber optik yang kita siapkan bukan hanya backbone-nya, namun hingga perangkat seperti home pass -nya yang menuju ke ruangan pengguna yang berbeda-beda dari setiap vendor atau Internet Service Provider (ISP). Jadi perencanaan pengembagan jaringan yang kita lakukan, tak hanya di jalur besar atau istilahnya jalan protokol, tetapi sampai implementasi untuk FTTH di rumahan,” ujarnya.

Sedangkan untuk mendukung kalangan industri dan bisnis, FiberStar juga telah menjalin kerja sama dengan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) untuk pengembangan dan melakukan peremajaan jaringan dengan fiber optik di kawasan-kawasan industri. Penyedian jaringan fiber optik ini sekaligus untuk membantu para pelaku industri dalam memasuki era digital. Terutama terutama untuk mendukung upaya transformasi digital business di kalangan dunia usaha dan pelaku industri.

Bagi para pelaku industri, memperkuat daya saing usaha di era digitalisasi dan keterbukaan pasar global, menjadi tantangan tersendiri. Upaya mengejar daya saing sangat membutuhkan implementasi ICT dan jaringan internet yang bisa diandalkan. “Melalui dukungan jaringan fiber optik yang kami hadirkan, kita harapkan para pelaku usaha bisa lebih cepat melakukan transformasi bisnis dengan digital teknologi,” ungkap Thomas Dragono.

Ditambahkan, di era digitalisasi ini, konektivitas merupakan hal yang sangat penting dalam membangun komunitas digital. Jaringan fiber optik yang dihadirkan memiliki tingkat keamanan yang terbaik untuk informasi data dan telekomunikasi serta tingkat scalability yang tinggi, sehingga mitra maupun user, dapat mengandalkan jaringan FiberStar untuk memenuhi kebutuhan konektivitasnya, termasuk dalam memasuki era Internet of Things (IoT). Sehingga bisa meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di pasar bebas, mengingat para pelaku usaha di kawasan industri merupakan salah satu tulang punggung bagi perekonomian bangsa.
Belum lama ini, FiberStar juga menjalin MoU dengan Agung Podomoro Grup (APG) untuk menghadirkan Salim Digital Ecosystem di delapan Trade Mall yang ada di bawah naungan APG. Dengan layanan ini, pengunjung maupun pelaku usaha akan mendapatkan akses internet kecepatan tinggi untuk mendukung aktivitasnya, termasuk mendukung para pelaku UKM agar lebih mudah memasuki dunia e-commerce. Turut mendukung digital ecosystem di TM Agung Podomoro ini, di antaranya CBN, iLotte, Elevenia, OFON, MyPoin, Asuransi Jaga Diri, OttoPay, PeDe, i.satu, HelloBill, PopBox, PopExpress, INDOMARET, Dens.TV, CBNCloud, juga Innovation Factory.

“Saat ini, Google Station sudah kami hadirkan di Mangga Dua Square dan dalam tiga bulan ke depan, kami targetkan 8 trade mall yang ada sudah bisa terpasang semua,” ujar Thomas Dragono.
Tak hanya untuk pelaku bisnis, dalam mengembangkan jaringan FiberStar juga banyak menyasar institusi atau lembaga kepemerintahan yang juga memiliki peran strategis dalam menopang akselerasi adopsi ICT di kalangan masyarakat. Apalagi beberapa Pemerintah Daerah belakangan juga banyak mengembangkan berbagai layanan berbasis ICT dengan mengembangkan konsep smart city.

Dalam upaya mendorong percepatan transformasi digital di kalangan masyarakat, FiberStar juga menginisiasi sejumlah project dengan mengembangkan layanan akses Wifi Public gratis di sejumlah daerah. Hal ini dilakukan FiberStar, selaku penyedia jaringan infrastruktur netral bekerjasama dengan Google dan CBN sebagai penyedia layanan internet menghadirkan jaringan WiFi untuk area-area publik. Misalnya dengan menghadirkan Google Station untuk layanan Free WiFi Internet Access di Kota Batang dan Pekalongan, Jawa Tengah.

Di Kabupaten Batang, Google Station yang secara resmi diluncurkan bersamaan dengan Hari Jadi Kabupaten Batang yang ke-52 pada 8 April 2018, dilakukan bersama dengan Bupati Kabupaten Batang, Bapak H. Wihaji, S.Ag., M.Pd. Hotspot WiFi publik Google Station tersedia di area antara lain Alun-alun Kabupaten Batang, Pasar Batang, Hutan Kota Rajawali, RSUD Kota Batang, Jalan Veteran dan Pendopo Kabupaten Batang. Hal ini merupakan salah satu wujud komitmen dalam menjangkau masyarakat akan ketersediaan jaringan internet untuk menunjang aktivitas mereka. Google Station di Kabupaten Batang juga untuk mendukung program Pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat yang telah mencanangkan Batang Smart City dan Smart Village.

Tak hanya di kota Batang dan Pekalongan, Google Station ini juga telah dihadirkan FiberStar di sejumlah kawasan strategis di berbagai kota di Tanah Air. Sejak peluncuran Google Station yang diadakan di Ciputra Artpreneur 24 Agustus 2017, Google Station telah hadir di 6 Kota seluruh Indonesia. Dengan hadrinya Google Station, masyarakat bisa menikmati fasilitas WiFi Publik secara gratis. Fasilitas koneksi internet yang mudah diakses dan stabil ini dapat dijumpai pada hotspot-hotspot yang tersedia di area umum.

“Dengan hadirnya Google Station di area publik, diharapkan dapat turut berkontribusi dalam mendukung penetrasi internet di berbagai pelosok, yang berdampak pada kualitas informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Jaringan fiber optik kami akan terus diperluas ke seluruh kota di Indonesia, ini merupakan bukti nyata dukungan kami dalam memberikan opsi akses internet yang lebih baik, serta mempermudah akses informasi yang berguna untuk semua lapisan masyarakat,” ujarnya. (red/Ju)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.