TAIPEI, 1 Juni 2026 — Satu jam setelah Keynote hangat & membludak Jensen Huang di GTC Taipei di Taipei Music Center, giliran Qualcomm yang “bakar panggung” COMPUTEX 2026. Di tengah hiruk-pikuk Nangang Exhibition Center Hall 2 (Tainex2), Presiden sekaligus CEO Qualcomm, Cristiano Amon, dengan percaya diri mendeklarasikan tahun 2026 sebagai “Year of the Agents” .
ABDI (Asosiasi Big Data & AI) akan menyelenggarakan salah satu Summit yang terbesar di Indonesia dengan tema NextGen AI, DataSecurAI, 1 Data Indonesia, GovTechAI bersama INTI (Indonesia Technology and Innovation Expo) di JI Expo pada August 11-13, 2026 dan DataGovAI Summit di MNC Conference Hall, 18 November 2026
- Pergeseran Kosmik: Agent sebagai Pusat, Bukan Sekadar Aplikasi
Selama dua dekade, ponsel adalah raja. Amon dengan berani menyatakan bahwa era itu akan segera berakhir.
“Agent akan menjadi pusat pengalaman digital Anda,” tegas Amon . Di masa depan, kita tidak lagi membuka aplikasi; kita berbicara dengan Agent. Agent-lah yang akan mengoperasikan ponsel, PC, hingga mobil, sementara perangkat keras hanyalah ‘titik ujung’ (endpoints) dari ekosistem tersebut .
Konsekuensinya luar biasa: perangkat saat ini tidak dirancang untuk Agent yang berjalan 24/7. Ini membutuhkan perombakan total pada sistem operasi dan arsitektur power management
Jika para pesaing masih sibuk membicarakan chatbot, Amon mengambil lompatan lebih jauh. Keynote-nya yang berlangsung pada 1 Juni 2026 itu bukan hanya tentang chip yang lebih cepat, melainkan tentang perang ulang arsitektur digital: menggeser “pusat” alam semesta dari Smartphone ke AI Agent.
Berikut tiga pilar utama yang menjadi fokus pidato Cristiano Amon untuk majalah Komite.id:
Jumlahnya luar biasa dimana 6 miliar smartphone, 2 miliar wearable devices, 2 miliar PC dan 0.5 miliar EV didunia yang akan memanfaatkan AI dari AI generative atau kah akan menjadi AI Agent.
Agent akan mengerjakan banyak pekerjaan sehari hari, apa saja yang harus dikerjakan (Scheduling Task, Project) dll. Akan flag (menandai) keputusan yang harus dibuat menjadi human companion (rekan kerja) & menjadi pusat dari digital experience kita, di semua gadget kita. Smartphone akan menjadi pusat dari digital experience kita, jadi semua pekerjaan dan kegiatan menggunakan smartphone. Sekarang AI agent berinteraksi di pusat digital experience kita dan semua gadget menjadi end point terhubung ke AI Agent. Sebelumnya semua devices dirancang untuk action yang diciptakan oleh user (manusia)bukan agent.
Agent agak berbeda, mereka beroperasi non stop (all the time) dan eksekusi multi task reliable secara mandiri. Disini lah tantangan energy dan power, karena agent mengkomsumsi banyak power/enerji dan banyak dedicated computing solution yang dibutuhkan dari Agent di device dan harus cukup fleksibel dari yang paling rendah sub milliwatt device to two thousand kilo watt.
Menjadi menarik apa yang akan berkembang di sisi sebuah PC karena agentic AI. Saat ini semua dari storage, aplikasi, O/S dirancang untuk berinteraksi dan beroperasi dengan manusia. Dengan Agent semua berupah total. Google membawa Agentic AI ke Androids dan Gemini. Kita membutuhkan sensor data, context dan terkadang harus bisa beroperasi tanpa connectivity jika terputus. 6 miliar smartphone dimana user experience harus di definsikan ulang di Data Center, inference butuh skala yang besar sekali dalam bentuk kebutuhan dari token. 
Level 1 : Generative AI: Conversational: Single Turn Kirim Satu Kali Prompt ke ChatGPT dan mendapatkan response membutuhkan sekitar 10,000 token
Level 2 : Reasoning AI: Multiturn limited tooling – 100,000 tokens – Proses Reasoning dilakukan bolak balik bertanya / prompting jadi multiturn dengan peralatan terbatas membutuhkan sekitar 100,000 token (7,500 kata dalam MsWord).
Level 3 : AI Agent Tools call 1.000.000+ token artinya:
Dalam prosesnya, agen bisa menghasilkan dan memproses hingga 1 juta token (setara ± 750.000 kata, seperti 2–3 novel tebal). Ini mencakup seluruh percakapan panjang, hasil pencarian bertahap, analisis data besar, hingga pemanggilan API berkali-kali. Artinya Agentic AI butuh resources yang luar biasa besarnya 100 x dari Generative AI. Ini tantangan memasuki era Agentic AI.
2. Physical AI Menjadi Nyata: Robot, Mobil, & “Token” sebagai Mata Uang Baru
Amon menjelaskan bahwa ini bukan hanya tentang AI di layar, tetapi Physical AI.
- Otomotif & Robotika:Qualcomm meluncurkan platform Dragonwing IQ10, sebuah referensi desain robot dengan kekuatan hingga 700 TOPS. Robot harus memiliki tiga lapis arsitektur: eksekusi instan (refleks), aksi (gerakan), dan penalaran (otak). Ini adalah jembatan antara konsumen dan industri .
Data mengejutkan: Saat ini, dunia mengonsumsi 31.7 Miliar Token setiap 10 detik. Di tahun 2030, angka ini akan meledak menjadi 1.27 Triliun Token per 10 detik .
Tahun ini 2026 diperkirakan jumlah Token yang dibutuhkan dunia dalam 10 detik sekitar 31.7 miliar token. Tahun 2030 diperkirakan jumlah Token yang dibutuhkan dunia dalam 10 detik 1.24 Triliun, artinya peningkatan 40x (4000%), karena memasuki era Agentic AI, agent membutuhkan banyak token. Atau 4 gazilliun bilangan yang sulit digambarkan karena terlalu massif.
Amon menegaskan bahwa tahun 2026 adalah titik balik krusial di mana industri beralih secara masif dari sekadar Generative AI generik menuju era Agentic AI—sistem kecerdasan yang tidak hanya menjawab pertanyaan, melainkan mampu mengambil tindakan secara mandiri (action-oriented), mempelajari kebiasaan pengguna, serta mengeksekusi alur kerja kompleks langsung di perangkat (on-device).
- Pergeseran Paradigma: Dari “Asisten” Menjadi “Agen”
Amon membuka sesinya dengan menjelaskan perbedaan mendasar antara AI masa lalu dan masa kini. “Kita tidak lagi berbicara tentang chatbot yang menunggu perintah teks Anda. Kita sedang memasuki era di mana AI Agents mendahului kebutuhan Anda,” ujarnya. Agen cerdas ini mampu mengelola jadwal kompleks, bernegosiasi secara otomatis dengan API eksternal, hingga memproses data sensitif secara lokal tanpa perlu menyentuh cloud, berkat arsitektur NPU (Neural Processing Unit) terbaru dari Qualcomm.
Penguasaan Ekosistem AI di Edge & Perangkat Komputasi
Fokus utama Qualcomm tetap pada kekuatan pemrosesan di jaringan edge. Amon memamerkan bagaimana platform silikon Snapdragon generasi terbaru telah dioptimalkan secara radikal untuk menjalankan model-model Agentic AI dan Physical AI. Keunggulan on-device AI ini menjadi pilar utama karena menawarkan tiga hal yang tidak dimiliki cloud: latensi nol (real-time), efisiensi daya yang ekstrem, dan privasi mutlak. Kemampuan ini tidak hanya diterapkan pada PC dan smartphone next-gen, tetapi juga merambah ke ekosistem robotika industri dan kendaraan otonom.
Dampaknya: Jika semua token ini diproses di cloud, biayanya akan menghancurkan ekonomi. Solusinya adalah Distributed AI (membagi beban antara perangkat dan cloud). Qualcomm membuktikan bahwa dengan pendekatan ini, biaya bisa turun hingga 4 kali lipat lebih murah. Token adalah the New Currency of AI. Jadi semua proyek AI Data Center atau AI Factory menghitung jumlah Token yang di proses dan dapat dikonversikan ke Energy yang dibutuhkan atau revenue yang dihasilkan.
Ekonomi Token: Poin paling teknis dan menohok dari Amon adalah pengenalan Token sebagai ‘Mata Uang Baru’
- Demokratisasi AI Global Melalui Kolaborasi Arsitektur Terbuka
Menutup pidatonya, Amon menekankan pentingnya standardisasi ekosistem agar AI Agents dapat beroperasi lintas platform secara mulus. Qualcomm berkomitmen menyediakan platform komputasi heterogen yang efisien agar para pengembang global dapat membangun ekosistem Physical AI—mulai dari lengan robotik di pabrik pintar hingga visualisasi navigasi pada autonomous vehicle— tanpa hambatan kompatibilitas.
Keynote dari Cristiano Amon ini mempertegas peta persaingan teknologi global di tahun 2026. Di saat raksasa lain berfokus memperbesar kapasitas cloud, Qualcomm justru membuktikan bahwa masa depan AI Agents yang sesungguhnya ada pada efisiensi perangkat cerdas yang terdistribusi langsung di sekitar kita.
(Artikel ini disiapkan sebagai materi ulasan mendalam untuk majalah Komite.id)





