Menlu Retno: Keniscayaan Digital Disrupsi Diplomasi & Hubungan Internasional

0
255

Jakarta, Komite.id – Sebuah keniscayaan bahwa setiap evolusi teknologi baru atau dikenal juga dengan Industrial 4.0 akan selalu mempengaruhi semua kegiatan manusia, dalam hal ini diplomasi dan hubungan Internasional, baik yang dilakukan oleh Pemerintah, maupun oleh Enterprise, apalagi yang sudah go global.

Bahkan banyak diantaranya perusahaan teknologi global, yang malah mengakselerasi proses disrupsi digital ini seperti Google, Facebook, Huawei, Twitter bahkan Gojek, Bukalapak dan banyak enterprise yang menciptakan masa depan peradapan manusia melalui disrupsi digital. Sebuah keniscayaan. inevitability.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi memberikan keynote dan sekaligus membuka High Level Regional Conference alias Summit tentang Digital Diplomasi (eDiplomasi) yang pertama di adakan di Asean dan mendapatkan sambutan meriah dari pada wakil Menteri Negara dan Duta Besar yang hadir antara lain Menlu Myanmar, SoeHan; Dutabesar India Pradeep Kumar Rawat, Jepang, Masafumi Ishii dan banyak perwakilan dari Timur Tengah, Afrika, Eropa, Australia dan Asia.

Tema Summit memang tepat waktu, sesuai jamannya ketika kita semua, negara peserta mencoba mengerti hubungan antara “Digital” dan “Diplomasi” sebagai Tools masa depan, dengan AI dan IoT dapat menyatukan (unite) atau bahkan memecahbelah (divide), dua sisi mata uang. Digital devices ini akan memisahkan siapa yang Cepat dari yang lambat mengadopsi transformasi dan disrupsi.

Presiden Jokowi pernah berkata bahwa hanya negara yang Cepat dan Tanggap akan mengalahkan yang lambat dan membuatnya menjadi Irrevant alias tidak lagi memiliki arti dan eksistensi. Ketidakmampuan kita untuk terus in par dengan kemajuan teknologi smart phone yang semakin kecil digenggaman tangan kita dapat membuat kita menjadi obsolete alias kadaluwarsa dan kuno.

Ada 4(empat) fokus utama dari digital diplomasi untuk menjawab semua tantangan diatas .
Pertama, memanfaatkan eDiplomacy untuk menyebarkan Message of Peace (Berita Perdamaian). Bagaimana eDiplomacy dapat melawan ekstremis yang berkembang di Internet, sosial media seperti Facebook, Google semestinya menyebarkan Peace bukan kebencian dan hoax, juga para pemuka agama dan pemimpin dunia.

Kedua,  eDiplomacy as Tools for Economy Cooperation.
Dalam era keterbukaan globalisasi tidak ada negara yang bisa menutup diri dan menghindari economy megatrends seperti: (a) meningkatnya divide / inequality between rich and poor; (b) Impact dari Fourth Industrial Revoluiton (IR 4.0);  (c) Trade War and Unilateral, yang semestinya Multilateral dan Bilateral. Jadi bagaimana digital diplomacy dapat mentransformasi ekonomi, dengan projeksi USD 6.5 Triliun global retail ecommerce sales 2022 diduni, memastikan digital secto economy sebagai the powerhouse of future economy.

Ketiga,  Digital Diplomacy protect citizen (melindungi masyarakat dunia).
Di Kementrian Luar negeri ada Portal Peduli WNI, integrasi data sistem untuk membangun Diaspora Indonesia diseluruh global; ada Portal Safe Travel , mobile aplikasi bagi masyarakat yang berkuncung ke luar negeri; informasi dari kedutaan dan konsulat dan emergency services jika terjadi insiden dinegara tetangga.

Keempat, eDiplomacy as tools for Development (Pembangunan). Bagaimana mengurangi gap kebudayaan (cultural) antara “the information rich” the have and “the information poor” the have not. Tugas kita untuk mengurangi digital divide. Rudi Rusdiah dahulu dengan asosiasi warnet (APWKomitel), sekarang ABDI (Asosiasi Big Data & AI) bersama aparat kedubes Tunis dan Menkominfo ikut lobby digital divide (ediplomacy) di ajang PBB dan ITU WSIS (World Summit Information Society) 2005 dan di Geneva 2003 deklarasi dan actions plan towards Information Society dengan goal 2015, dilanjutkan dengan World Summit on Sustainable Development hingga kini sampai 2025.

Saat itu fokusnya adalah Internet akses via kiosk, warnet, cyber cafe, wardes, PLIK (Pusat Layanan Internet Kecamatan) dan MPLIK, proyek BAKTI didaerah rural dan 3T (Tertinggal, Terluar dan Terpencil).

Saat ini sudah ada 4 miliar penduduk dunia terkoneksi keInternet atau lebih dari 50% penduduk dunia dengan koneksi rata rata 6 jam dalam sehari dan 1.78 juta atau penetrasi sosmed hingga 47%. Sedangkan di Indonesia lebih dari 150 juta pengguna sosmed artinya lebih dari 50% majoritas generasi milenial atau netcitizen atau digital native. Generasi baby boomers menjadi digital imigran bahkan ada yang masih digital aliens, dikalangan the have not dan tinggal didaerah 3T.

Sayangnya teknologi mempunyai dua sisi mata uang berisi peluang dan ancaman atau tantangan, sehingga konferensi ini sekaligus menjadi ajang diplomasi global meningkatkan peluang seperti meningkatkan jumlah unicorn, startup, kolaborasi bisnis, crossborder economy dan menekan ancaman seperti terorisme, money laundering, cybercrime, penggelapan / pengalihan pajak dan dunia hitam.

Indonesia yang memiliki transaksi ecommerce dan unicorn terbesar di Asean memang layak menyelenggarakan digital diplomacy, karena digital teknologi telah mendisrupsi hampir semua kegiatan pemerintah (Government)dan swasta ecommerce , termasuk diplomasi dan Kementrian Luar Negeri. (RR)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.