Selular Congress 2019: Digital Payment, Challenge and Opportunity

0
202

Jakarta, Komite.id- Maraknya layanan pembayaran digital menjadi pembahasan sesi pertama dalam Selular Congress 2019 yang bertema Digital Payment: Challenge and Opportunity di Ballroom Gandaria City Hotel Jakarta, pada Senin (15/7). Tema ini akan membahas bagaimana para pelaku digital payment melancarkan strateginya untuk memperoleh pertumbuhan bisnisnya dan menguasai pasar Indonesia.

Sesi ini diisi oleh pembicara seperti Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) – Aji Satria Sulaiman, Product Development Group Head PT Finarya (LinkAja) – Dhenu Wiarsandi, Chief Communications Officer DANA – Chrisma Albandjar, serta Director of Payment, Fintech and Virtual Produk. Victor Putra Lesmana.

Diketahui, hasil riset Morgan Stanley memprediksi jumlah transaksi melalui pembayaran digital akan mencapai USD50 miliar pada 2027. Sementara itu, mengacu data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi pembayaran digital atau uang elektronik menyentuh Rp47,19 triliun sepanjang 2018. Angka itu meningkat empat kali lipat dibandingkan nilai transaksi tahun sebelumnya, yang sebesar Rp12,37 triliun.

Survei yang dilakukan Morgan Stanley mengungkapkan dari 1.582 responden, 20% di antaranya lebih memilih menggunakan layanan pembayaran digital dari perusahaan teknologi finansial (tekfin) dibanding milik bank, perusahaan telekomunikasi, atau e-commerce. Rata-rata transaksi melalui pembayaran digital mencapai Rp600.000 per bulan. Dalam satu tahun terakhir pertumbuhan transaksi digital menggunakan layanan tekfin mencapai 55%, melampaui kenaikan penggunaan layanan milik e-commerce (47%), bank (41%), uang tunai (35%), dan provider seluler (33%).

Survei yang sama juga menunjukkan bahwa 38% responden masih memilih uang kas sebagai metode pembayaran sehari-hari dibanding menggunakan dompet digital milik perusahaan tekfin (20%), kartu debit (12%), RTGS (10%), dan pembayaran digital dari bank, provider seluler, serta e-commerce.

Startup yang bergerak dibidang pelayanan keuangan digital, LinkAja melakukan segala promosi kepada pengguna layanannya dengan memberikan kemudahan bukan kemurahan. “LinkAja memiliki statement adalah memberikan kemudahan bukan kemurahan, jadi gini ketika kita sudah tidak ada promosi itu, orang tetep pakai atau tidak. Jadi itu yang kita coba cari apakah disaat kita sudah tidak promosi, orang masih akan pakai atau tidak, jadi bukan karena murah tapi karena mudah,” ujar Dhenu Wiarsandi, Product Development Group Heas PT Finarya (LinkAja).

Kemudahan yang dimaksud oleh Dhenu yakni dari segi akses yang di mana setiap pengguna dapat lebih mudah mengakses LinkAja. Selain hal tersebut LinkAja juga selalu melakukan uji coba terhadap produk mereka mengenai seberapa mudah produk mereka digunakan. “Mudah yang kita maksud itu dari segi akses serta dari sisi produk pun kita selalu nge-test atau nguji apakah ini dipakai dengan mudah,”lanjut Dhenu. Promosi yang dilakukan tersebut bertujuan untuk meningkatkan trust level. Disisi lain untuk perihal menjamin keamanan, LinkAja selalu berada dibawah pengawasan dari Bank Indonesia.

LinkAja mengklaim bahwa mereka merupakan pelopor e-money provider yang dapat melakukan sistem tarik tunai tanpa menggunakan kartu ATM, dan hal itu sudah dapat dilakukan diseluruh ATM mana saja. “Kami merupakan e-money provider yang pertama dapat melakukan tarik tunai tanpa kartu hampir diseluruh ATM, itu sudah diterapkan dan dapat dilakukan di ATM mana saja,” kata Dhenu Wiarsandi

Selain hal tersebut, kini LinkAja sudah memiliki 26 juta pengguna aktif yang melakukan registrasi. Namun belum dapat diketahui berapa banyak pengguna aktif setiap bulannya. “Registered user kita angkanya sekitaran 26 juta active user, karena baru launching jadi belum diketahui juga pengguna tiap bulannya, yang kita harapkan ya pasti segera aktif semuanya dan harapan kita gak cuma sebulan tapi daily use artinya setiap segala apapun digunakan,” lanjut Dhenu.

LinkAja juga memberikan kemudahan bagi setiap pengguna jalan tol. Pasalnya kini sudah ada 20 gerbang tol di Jakarta dan Bali yang pelayanannya sudah dapat dilakukan dengan menggunakan LinkAja dan hal tersebut akan terus dikembangkan ke kota lainnya yang bekerjasama dengan Jasamarga. Untuk merchant yang terdaftar dari LinkAja sendiri pun kini sudah ada sebanyak 180 ribu merchant, dan itu sudah tersebar di seluruh pulau di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama Chief Communication Officer DANA, Chrisma Albandjar promosi bisa menjadi tolak ukur penyedia layanan untuk menentukan kesuksesan inklusi keuangan melalui pembayaran digital. “Kita harus lihat kalau promosi berhenti orang masih pakai tidak. Kalau tidak pakai ya berarti edukasi belum masuk atau belum betul-betul mendarah daging atau tidak dibutuhkan. Bisa juga tidak enak dipakainya tidak seamless,” ujar dia.

Chrisma menjelaskan user experience (pengalaman pengguna) terus menjadi bahan evaluasi untuk mempertahankan masyarakat agar tetap menggunakan layanan pembayaran digital. Pengguna harus merasakan sensasi seamless ketika menggunakan layanan pembayaran digital. “Ini tantangan buat tim produk desainer untuk membangun sesuatuyang dibutuhkan dan juga bisa digunakan sehingga orang memakainya secaea seamless. Tidak terasa memakainya,” kata Chrisma. (red/sumber)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.