BPPT Gelar Temu Bisnis Bedah Inovasi SDA

0
122

Jakarta, Komite.id- Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW) salah satu unit kerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggelar  acara Temu Bisnis dan Bedah Produk Inovasi Teknologi terkait valuasi ekonomi lahan gambut di Hotel Sapphire Sky, BSD Serpong, Tangsel, Selasa (11/12).

Dalam kegiatan ini juga diselenggarakan acara apresiasi pada metode estimasi luas panen padi dengan kerangka sampel area (KSA) berupa penyematan tanda jasa Satya Lencana Karya Satya Pembangunan dari Presiden RI tahun 2019 kepada para inovatornya: Heri Sadmono, Swasetyo Yulianto, Lena Sumargana dan Fauziah Alhasanah.

“Dalam temu bisnis ini  dibahas mengenai  sistem daring (online) pemeringkatan bahaya kebakaran hutan dan lahan secara near-real time berbasis web yang diberi nama InaFDRS (Indonesia Fire Danger Rating System) yang bertujuan memperbaiki keakurasian peringkat bahaya kebakaran, khususnya di lahan gambut,” kata Tri Handoko, Kepala Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca-BPPT Tri Handoko Seto.

Sebanyak empat unit Ina FDRS yakni  suatu teknologi  untuk menjaga lahan gambut basah, dimana  saat terpantau terjadi penurunan segera dibasahi tersebut, sudah dipasang Ogan Komering Ilir  Sumatera Selatan berkolaborasi dengan sejumlah instansi  lain seperti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Seto menjelaskan ini merupakan sistem informasi secara real time pengukuran langsung pada lahan gambut untuk memantau potensi kebakaran hutan. Lokasi yang menjadi target pemasangan  yaitu di areal PT. Kelantan Sakti dan PT. Rambang Agro Jaya. Kedepan, Ina FDRS juga akan dilengkapi parameter yang bisa mengetahui potensi kerugian jika terjadi karhutla di suatu wilayah.

Tak hanya itu,  BPPT di tahun 2020 juga akan memadukan dan menyempurnakan semua sistem yang ada saat ini menjadi kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI). Teknologi ini dapat membantu  untuk melakukan  monitoring, kontrol dan deteksi dini karhutla. Penggunaan AI, kini memang tengah dibidik pemerintah dalam upaya upgrade teknologi. Apalagi, inovasi seperti AI dan Big Data merupakan hal yang sangat krusial dalam melakukan upgrade teknologi untuk mitigasi bencana.

Dilanjutkan, dari hasil Temu Bisnis tersebut dapat ditarik benang merahnya bahwa Riset seharusnya tidak hanya untuk perpustakaan tetapi harus dapat diimplementasikan (Research not only for library, it should go to human life); Untuk itu keterbukaan, berbagipakai data dan kerjasama mutlak diperlukan (Data sharing and collaborative works are needed)

“Kolaborasi antara Akademisi, Komunitas, Bisnis dan Pemerintah diperlukan untuk hilirisasi produk riset agar mempunyai dampak untuk umat manusia (AcademicCommunity-Business-Government collaboration are needed),” ujar Handoko yang juga Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah-BPPT.

Diketahui, TMC selain diaplikasikan dan dimanfaatkan untuk mitigasi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan, banjir dan bencana kabut asap akibat karhutla, juga dilaksanakan dalam pengamanan proyek strategis nasional dan kegiatan penting kenegaraan yang bersifat nasional dan internasional baik untuk mengurangi gangguan kabut asap maupun menjaga agar lokasi kegiatan tidak terkendala oleh cuaca ekstrem. (red)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.