Wapres JK : Kolaborasi Global Perangi Radikalisme di Sosmed

0
153

Jakarta, Komite.id- Pidato Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia di UN General Assembly (PBB Sidang Umum) mendapatkan sambutan meriah. JK didampingi oleh tim DelRI antara lain Menteri Luar Negeri dan Menteri Kominfo, Rudiantara. Demikian pidato JK di depan Sidang Umum PBB (28/9) di New York dalam bahasa Ingris yang diterjemahkan kedalam 5 bahasa universal di PBB:

War, Hunger, Extreme Poverty, Illiteracy (Perang, Kemiskinan absolut, Kelaparan dan Butahuruf) masih banyak diberbagai negara dan masyarakat dunia, Indonesia mengedepankan pemberdayaan dan pembangunan manusia serta menghimbau agar semua negara bersatu memerangi masalah masalah yang harus diselesaikan pada 2030 seperti yang tercantum di Sustainable Development Goal (SDG). Kebetulan penulis sempat mengikuti World Summit on Information Society (WSIS) di Tunisia 2005 yang menghasilkan Internet Governance Forum dan MDG (Millenium Development Goal) memanfaatkan ICT untuk mengurangi Kesenjangan, Kemiskinan, Kelaparan, Kesehatan dan Butahuruf).

MDG selesai pada tahun 2015 dan dilanjutkan dengan SDG dengan Goal yang lebih komprehensif dan harus dapat selesai 2030. WSIS, IGF, SDG semua adalah produk dari ITU yang juga merupakan bagian dari PBB. Sanggupkah dunia mencapai target dari SDG, karena seperti Indonesia juga tidak dapat menyelesaikan target MDG dan Tunis commitment yaitu penetrasi Internet diseluruh desa, rumah sakit, sekolah, universitas pada tahun 2015. Hingga sekarang Palapa Ring masih harus menyelesaikan tugas dari MDG yang semestinya selesai pada 2015.

Indonesia menghimbau dunia agar menegakkan perdamaian dan kesejahteraan (Peace & Prosperity) dan sustainability (Keberlangsungan) menjadi sangat penting membangun global ekosistem perdamaian (peace). Unilateralism seperti strategi Trump menghadapi China, Iran, Palestina harus ditinggalkan diganti dengan multilateralism memanfaatkan PBB, WTO , karena di era globalisasi kolaborasi dan tidak ada negara yang dapat hidup terisolasi.

Indonesia yang juga anggota Dewan Keamanan PBB dan G20 mengedepankan dialog, mempertahankan peace keeping force, soft power dalam berbagai isu dialog seperti unilateralisme perang dagang oleh AS, two state policy untuk Palestina dan mendukung South South Cooperations sebagai media komunikasi dan dialog negara berkembang (developing nation).

Pada Digital age, ada dua sisi matauang. Satu sisi memberikan manfaat namun sekaligus Sosmed menjadi sarang terorism, extreeme violent, radikalisme, darkweb dll. Sulit bagi suatu negara mengisolasi negaranya seperti Tiongkok, namun yang dibutuhkan adalah pendekatan Global Cooperation. (RR)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.