Yovita Bellina: Kedaulatan Industri Nasional Jelang 5G

0
517

Jakarta, Komite.id – Perusahaan yang berani mengembangkan, merakit, uji coba hingga POC teknologi 5G sangat langka di Indonesia, bahkan perusahaan manufaktur 4G nasional, yang sukses dan sustainable dapat dihitung dengan jari. Perang dagang antar raksasa di dunia, sebetulnya bukan karena defisit ekonomi atau impor dan export komoditas barangnya, tapi karena bersaing dalam penguasaan resource teknologi, paten & kemampuan menguasai pasar di dunia melalui produk teknologi dalam hal ini 5G. Pertanyaannya khusus edisi HUT RI ke 74 ini, kita semua wajib bertanya, bagaimana Indonesia menjaga kedaulatan ekonomi, perdagangan dan Industri 4.0 nya?

Beruntung pada edisi HUT RI terkait kedaulatan ekonomi dan industri TIK, Komite.id berhasil menemukan dan mewawancarai sosok, yang tadinya sukses membangun pabrik peralatan telekomunikasi dan memiliki kolaborasi paten produk teknologi di Silicon Valley dan di Tiongkok, namun sebagai Warga Negara Indonesia merasa mempunyai tanggung  jawab untuk turut membantu agar Indonesia memiliki  industri peralatan teknologi telekomunikasi  yang mandiri, sustainable dan berdaya saing. Pada awal bulan Juli yang lalu, Komite mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Yovita Bellina selaku CEO PT. Tata Sarana Mandiri atau TSM Technologies, sebuah perusahaan teknologi yang inovatif, berfokus pada solusi cerdas dan konektivitas yang terintegrasi, didukung oleh tim pengembangan software dan hardware yang handal dan berkelas dunia. Pada edisi Feb-Mar tahun 2017, kami juga sempat wawancara dengan Sam Ali, Chairman PT TSM.

Berikut hasil dari wawancara KOMITE.ID dengan Bu Yovita Bellina:

Menurut Yovita, TSM memiliki bisnis di beberapa bidang seperti:

  • Software and Digital Ecosystem
  • Payment and Fintech Solutions
  • IoT and Smart City Solutions
  • Wireless Infrastructure Networking Solutions
  • Smart Connected Devices

Sebagai tokoh yang telah lama berkecimpung di industri telematika dan memimpin perusahaan yang telah menciptakan produk-produki inovatif dan kreatif dengan SDM dari Indonesia, Yovita memaparkan pandangan beliau terkait masa depan 5G di Indonesia. Tidak hanya itu, Ia juga memaparkan pentingnya peran Pemerintah dan industri dalam mendukung pengembangan teknologi tersebut karena nantinya berkaitan dengan kedaulatan teknologi dan dapat memengaruhi isu-isu keamanan nasional.

Sebelum masuk pada penjelasan terkait 5G, beliau sedikit menjelaskan histori pengembangan teknologi jaringan nirkabel dari 2G hingga 5G melalui gambar di bawah ini. Dapat kita lihat secara garis besar bahwa evolusi utama generasi 5G dibandingkan dengan 4G dan 4.5G adalah bahwa diluar peningkatan kecepatan, terdapat keunggulan mengenai latensi yang lebih rendah sehingga dapat menyediakan interaksi secara real-time, sebagai contoh misalnya untuk menyediakan layanan konektivitas data menggunakan cloud sehingga memilki kecepatan dan respon yang sama dengan koneksi yang umum. Selain itu, isu mengenai konsumsi daya yang rendah juga menjadi salah satu keunggulan lainnya yang dapat dimaksimalkan sehingga akan sangat mendukung otomasi perangkat yang beroperasi dengan jangka waktu yang lama dari sebelumnya.

Pada tahun-tahun awal pengembangan dan pengaplikasian teknologi 3G dan 4G, Indonesia memang mengalami ketertinggalan jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang dan Tiongkok. Lalu saat ini, negara-negara tersebut pun tengah berlomba-lomba untuk menerapkan Teknologi 5G. Namun, Ia optimis bahwa deployment teknologi 5G di Indonesia yang diharapkan rampung pada tahun 2022 dapat dicapai, asalkan inisiatif pengembangan ekosistem 5G di Indonesia dapat dimulai dari sekarang.

Selain itu, Indonesia diniliai mampu mengejar ketertinggalan melalui 5G karena RnD dan sector manufacturing di Indonesia sudah semakin berkembang sejak adanya penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di Indonesia. Keberpihakan pemerintah kepada dunia industri manufaktur teknologi merupakan sebuah permulaan yang baik. RnD yang menjadi kunci utama dalam penguasaan core technology di negeri ini wajib menjadi perhatian utama kita semua saat ini. Dari sini optimisme mesti dibangun, terlebih lagi berbagai pihak yang berkepentingan tentu telah banyak belajar dari histori 3G dan 4G. Sehingga hal itu dapat meningkatkan peran industri dalam negeri untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan dan penerapan teknologi 5G di Indonesia.

Pada tahun 2016, TSM mendapat penghargaan terkait pencapaian nilai TKDN tertinggi di industri smartphone dari Pemerintah Indonesia. Dari pengalamannya tersebut, Yovita percaya bahwa nilai TKDN yang semakin meningkat dapat mendorong perkembangan RnD dan manufaktur di Indonesia. Di sini transfer teknologi pun telah didapatkan. Selain itu, belum lama ini kita ketahui bahwa pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai kewajiban registrasi IMEI dengan tujuan untuk mengurangi impor smartphone illegal. Bagi pelaku industri, kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri manufaktur dan RnD dalam negeri. Jika RnD dan manufaktur berkembang pesat, Indonesia tidak hanya dapat mengejar ketertinggalan namun juga dapat mandiri dan berdaulat di sektor industri manufacturing peralatan teknologi 5G. Hal tersebut penting utamanya dalam memasuki era industri 4.0, yang gaungnya bahkan selalu terdengar nyaris di setiap seminar dan forum-forum profesi.

Yovita Bellina menekankan bahwa di era industri 4.0, kerjasama antara industri dan pemerintah sangat dibutuhkan. Karena di era tersebut, Internet of Thing (IoT), Artificial intelligence/Machine Learning (AI/ML) akan menjadi jantung perkembangan berbagai industri seperti industri transportasi, keuangan, telekomunikasi, retail dan lainnya. Selain itu, IoT dan AI/ML juga dapat mendukung inovasi program Pemerintah seperti e-tilang, smart living, hingga skema perpajakan yang terintegrasi dengan database kependudukan. Untuk mendukung inovasi tersebut, Pemerintah perlu membangun data center yang aman, reliable, dengan kapasitas yang cukup serta konektivitas yang aman, cepat dan stabil. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui teknologi 5G yang memiliki spesifikasi seperti pada gambar di bawah ini:

Lebih penting lagi, mengutip pernyataan Qualcomm, perusahaan teknologi terkemuka di dunia yang juga merupakan partner bisnis TSM, jaringan 5G tidak hanya menghubungkan manusia namun juga menghubungkan dan mengontrol mesin, object, dan perangkat.

Dalam hal ini, Pemerintah sebagai regulator memiliki peran penting untuk menginisiasi adopsi teknologi 5G demi terwujudnya kedaulatan teknologi. Dimana kedaulatan teknologi nantinya berkaitan erat dengan program-program pemerintah yang menyangkut isu keamanan nasional, keamanan publik, pertumbuhan ekonomi serta pertumbuhan industri telekomunikasi. Para pelaku industri umumnya mengharapkan pemerintah dapat melakukan langkah-langkah nyata antara lain:

  1. Meningkatkan alokasi APBN di sektor telekomunikasi dan RnD
  2. Membangun infrastruktur pendukung
  3. Membuat kebijakan dan regulasi pendukung penerapan teknologi 5G yang aman di Indonesia
  4. Meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan industri
  5. Memberi stimulus pada industri untuk mengadopsi teknologi 5G, seperti salah satunya memberikan insentif tarif dan pajak. Karena jika dibandingkan dengan negara-negara lain, insentif yang diberikan pemerintah pada industri masih cukup rendah
  6. Menjaga stabilitas politik demi menumbuhkan kepercayaan investor

Sementara itu, peran industri dalam mendukung pemerintah dapat dimulai dengan menciptakan produk-produk berkualitas menggunakan teknologi dan SDM yang dimiliki oleh Indonesia. Hal yang sama Ia terapkan di TSM sejak tahun 2012. Sebagai perusahaan yang telah mampu mengembangkan perangkat-perangkat selular berbasis 4G, Yovita optimis bahwa ke depannya Indonesia mampu mengembangkan perangkat-perangkat lain berbasis 5G dan berdaulat dalam hal teknologi. Ditambah lagi, TSM memperoleh support penuh dari Qualcomm karena TSM telah mengantongi lisensi 4G dan 5G dari Qualcomm.  Yovita menjelaskan bahwa untuk awalnya tidak mengapa hardware diperoleh dari negara lain bilamana terkait dengan percepatan dalam penerapan namun, kepemilikan data dan penguasaan teknologi harus tetap dikuasai oleh Indonesia. Hingga nantinya ekosistem 5G dapat segera terbentuk serta penguasaan teknologi, kontrol data dan software tetap dipegang oleh Indonesia.

Yovita Bellina juga menyampaikan fokusnya terkait human capital sebagai modal pertumbuhan RnD dan manufaktur di Indonesia yang nantinya dapat menjadi modal kuat di era industri 4.0. Menurutnya, selama ini perkembangan kedua hal tersebut cenderung lambat karena hanya berfokus pada labour base, dan bukan human capital yang mendukung technology base. Labour base lebih mengutamakan upah murah dan kuantitas, lalu mengesampingkan kualitas. Sementara pengembangan RnD dan manufaktur di Indonesia lebih membutuhkan human capital handal yang dapat mendukung technology base.

Melalui perusahaan yang ia pimpin, Yovita mencoba memaksimalkan human capital dari Indonesia yang dapat mendukung technology base. Selain itu, TSM tidak hanya menciptakan produk namun juga menjadi tempat riset dan pengembangan teknologi. Dimana ilmu dan pelatihan yang diberikan tidak hanya untuk para engineer yang bekerja di TSM namun juga untuk SMK dan Universitas di Indonesia. Melalui program vokasi industri yang sedang digalakkan oleh pemerintah, TSM memberikan ilmu, pelatihan dan juga hibah alat-alat teknologi untuk beberapa SMK dan Universitas di Indonesia.

Yovita Bellina menambahkan, kurikulum pendidikan di Negara ini perlu menyesuaikan dengan perkembangan industri. Karena pada kenyataannya, gap materi kurikulum pendidikan Indonesia dengan perkembangan industri masih cukup jauh dan tidak up to date. Apabila hal tersebut terus dipertahankan, maka akan dihasilkan lulusan-lulusan yang tidak siap kerja dan tidak siap berkompetisi. Dalam hal ini, TSM siap untuk menginisiasi adanya sertifikasi keahlian bagi pelajar/mahasiswa sebelum mereka lulus dari SMK atau universitas. Kedepannya, Yovita Bellina juga bercita-cita memiliki academy center yang dapat menjadi pusat sertifikasi keahlian di bidang telematika di Indonesia.

Dengan pengalaman dan pencapaian yang telah dimiliki, Yovita Bellina dan TSM ingin mewujudkan Indonesia yang mampu mandiri dan berdaulat dalam hal SDM dan teknologi. Optimisme yang sama akan terus ditunjukkan dalam pengembangan teknologi 5G nantinya. Ia menekankan sekali lagi bahwa demi kedaulatan dan kemajuan Indonesia, pemerintah dan industri harus terus bekerjasama dan bersinergi. Ia pun menutup wawancara dengan sebuah ajakan: “Mari tinggalkan minsdset kita menjadi negara konsumen, tetapi kita jadikan Indonesia ini menjadi negara produsen.” *(red/RR)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.