Liburan dan Bahaya WiFi Publik

0
189

Jakarta, Komite.id. Belanja online mulai menjadi budaya masyarakat modern. Kesibukan, kepraktisan, kemudahan akses internet menjadikan budaya belanja online meluas ke berbagai belahan dunia. Keinginan berbelanja online juga melanda masyarakat Asia Pasifik termasuk Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan pengguna mobile terbesar di dunia, yang menurut Forbes dari 150 juta pengguna internet di Indonesia, 95% atau 142 juta adalah pengguna internet via mobile.

Dibalik segala kemudahan yang diberikan serta semakin menjamurnya budaya berbelanja online ini, tersimpan potensi risiko yang besar. Risiko yang sering mengancam para pelaku belanja online ini adalah kejahatan siber seperti penipuan online yang berimbas ke akun finansial pengguna dan informasi pribadi yang disalahgunakan.

Kasus semacam ini makin sering terjadi di musim liburan seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru atau saat musim belanja mendapatkan popularitas dengan banyak pengguna yang berbelanja secara online, sementara pengecer online dan pengguna menyimpan data informasi pribadi mereka secara online, belum lagi kerentanan lain yang bersumber dari lemahnya kata sandi dan penggunaan kata sandi tersebut untuk banyak akun terutama akun finansial, sehingga tidak mengherankan jika dalam survei ESET di Asia Pacific (APAC) menunjukkan 32% konsumen ESET menyimpan informasi mereka secara online. Jumlah tersebut masih bisa terbilang rendah, namun harus dapat ditekan lagi agar menjadi lebih rendah.

Dengan pengecualian Thailand, semua negara dalam survei ESET adalah negara yang menggunakan ponsel dengan rata-rata 61% responden mengatakan mereka menggunakan ponsel mereka untuk transaksi online. Ini adalah alasan yang perlu diperhatikan, mengingat ponsel belum dilengkapi dengan solusi keamanan siber yang kuat. Yang lebih memperburuk keadaan lagi adalah meningkatnya ketersediaan WiFi gratis. (red)

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.