Tahun Pemilu, Belanja Iklan TV Kuartal I 2019 Melesat

0
62

Jakarta, Komite.id- Hasil monitoring iklan televisi Adstensity pada kuartal I 2019 yang dilansir oleh PT Sigi Kaca Pariwara menunjukkan total belanja iklan di Kuartal I 2019 mencapai Rp27,94 triliun. Angka belanja iklan televisi ini mengalami kenaikan sebesar 10,22% secara year on year (yoy) jika dibandingkan dengan kuartal I 2018 yang mencapai Rp 25,35 triliun.

Untuk jumlah iklan, kuartal ini tercatat 832.772 iklan di 13 stasiun TV nasional, atau naik 1,40% dari kuartal I 2018 yang mencapai 821.270 iklan tv. Kenaikan belanja iklan ini menunjukkan efek pemilihan umum 2019 tidak menghalangi pebisnis untuk beriklan di kuartal I tahun ini.

Belanja iklan dari lembaga dan organisasi politik termasuk penyelenggara pemilu juga berhasil masuk 10 besar belanja iklan televisi dengan nilai belanja Rp.840 miliar. Hal ini belum pernah terjadi pada kuartal I 2018 dan kuartal I 2017.

Partai Perindo merupakan brand yang paling banyak mengeluarkan dana belanja iklan. Pada kuartal I tahun ini, total belanja iklan Partai Perindo mencapai Rp549,38 miliar atau sekitar 65,45% dari total belanja iklan dari sektor politik. Meskipun paling besar secara biaya menurut ratecard iklan televisi, hal ini belum tentu sejalan dengan biaya riil belanja iklan yang dikeluarkan oleh Partai Perindo di televisi.

Hal ini karena Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo memiliki beberapa stasiun televisi nasional, seperti RCTI, Global TV dan MNC TV. Oleh karenanya, hal yang memungkinkan apabila ada diskon atau potongan harga dalam praktik bisnis antara pemasang iklan dan stasiun TV yang bersangkutan di luar dari Rate Iklan yang telah ditetapkan ke pasar.

Secara industri, Industri personal care (perawatan pribadi) masih mendominasi belanja iklan dengan total belanja Rp.5,42 triliun. Di tempat kedua, Industri makanan olahan (refined food) dengan total belanja iklan Rp.3,69 triliun. Berikutnya, peringkat ketiga adalah industri farmasi dengan total belanja iklan Rp.2,47 triliun.

Selanjutnya, industri dairy (bahan makanan dari hasil olahan susu) dengan total belanja iklan Rp.1,64 triliun. Industri platform berbasis online berada di tempat ke-5 dengan total belanja Rp.1,49 triliun. Sementara itu, posisi ke-6 hingga ke-10 adalah industri minuman, rokok, household (peralatan rumah tangga), kopi, dan politik.

Untuk brand (merek), sebagaimana telah dikemukakan, Partai Perindo merupakan brand yang paling banyak mengeluarkan dana belanja iklan senilai Rp549,38 miliar. Sedangkan di tempat kedua perolehan belanja iklan ada brand Mie Sedaap mengeluarkan dana belanja iklan sebesar Rp362,31 miliar.

Selanjutnya, posisi ketiga diduduki oleh Pantene dengan belanja iklan sebesar Rp270,80 miliar. Berikutnya keempat ada Wardah dengan total belanja iklan sebesar Rp252,57 miliar. Clear berada di tempat ke-5 dengan mengeluarkan dana untuk beriklan sebesar Rp241,18 milliar. Lalu, ada Shopee pada posisi ke-6 dengan belanja iklan sebesar Rp218,09 miliar. Pada posisi ke-7 ditempati oleh Torabika Cappucino yang mengeluarkan belanja iklan sebesar Rp207,03 miliar.

Kemudian posisi ke-8 ditempati oleh Counterpain dengan total belanja iklan Rp203,32 miliar. Sedangkan, posisi ke-9 dan ke-10 diduduki oleh Sarimi Isi 2 Rasa Mie Dok-dok Deeerr dan brand Kapal Api Signature dengan masing-masing mengeluarkan total belanja iklan sebesar Rp200,34 miliar dan Rp190,61 miliar.

Sebagai catatan, data statistik di atas diperoleh Adstensity berdasarkan rekaman semua iklan televisi di 13 stasiun tv nasional, yakni RCTI, SCTV, Indosiar, MNC TV, Trans TV, Trans 7, Global TV, Metro TV, TV One, ANTV, Kompas TV, Net TV, dan TVRI. Adstensity mencatat volume iklan dan harga iklan sesuai dengan data yang dipublikasikan (publish rate), sehingga nilai yang tercatat adalah nilai bruto. Data ini tidak memberikan informasi apabila ada diskon atau potongan harga atau deal-deal lain dalam praktik bisnis antara pemasang iklan dan stasiun TV yang bersangkutan di luar dari Rate Iklan yang telah ditetapkan ke pasar komersil. (red)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.