OLX Bantu Monetizing Barang Bekas yang Tak Terpakai

0
1874

Jakarta, KomiT – Anak perusahaan Myriad International Holdings Naspers Limited (NPN-JSE) telah memiliki sebanyak 64% saham TokoBagus.com dan menjadikan bagian dari network perusahaan global dengan nama OLX (Online Exchanged). OLX telah hadir di 106 negara dalam 40 bahasa. Demikian juga dengan Berniaga dikendalikan oleh 701 Search yang merupakan persekutuan dagang (kongsi) Naspers, Telenor, Singapore Press Holding (SPH), Schibsted. Masing-masing saham Kedua perusahaan, 64 persen (Nasper) dan 36 persen (701 Search).

“Merger Berniaga dengan TokoBagus menjadi OLX menjadi sebuah kekuatan yang mendominasi sektor C2C (Consumer to Consumer) atau penjualan dari konsumen ke konsumen. Hal ini sangat mirip seperti platform e-commerce global di Amerika Serikat, Ebay,” ujar Edward Kilian Suwignyo, Chief Marketing Officer (CMO) OLX.co.id mewakili CEO, Daniel Tumiwa bersama Hermanto, Marketing Communication Manager di kantor OLX, Gedung Sentraya, Jakarta.

OLX, situs jual beli online dibidang online classifed ads, dimana jutaan pengguna global memasang iklan dan menjual barang bekas dimasing masing pasar lokal mereka. Sangat kontras dengan berbagai toko online yang menjajakan barang baru yang saling bersaing seperti Mataharimall.com, Lazada, BLI BLI.com dan sebagainya. Saingan OLX adalah Kaskus yang juga berbisnis iklan online. Perbedaannya Kaskus fokus pada forum dialog komunitas dan ThreadList untuk bertransaksi, sedangkan OLX fokus pada iklan Baris mempertemukan penjual dan pembeli.

Diakui, OLX memang unik dan pandai memanfaatkan peluang kebutuhan masyarakat kelas menengah kebawah yang memiliki barang bekas tak terpakai dan OLX dapat membantu menguangkan (monetizing) barang bekas yang tidak terpakai kepada masyarakat yang mungkin membutuhkan barang tersebut. Misalnya, kendaraan baik mobil maupun motor, property maupun gadget dan peralatan rumah tangga lainnya. Sebuah usaha oleh OLX mengefisiensikan asset yang tadinya menganggur dan tidak memiliki value disatu pihak, namun sangat berharga (high value) bagi pihak yang membutuhkan.

OLX juga memfasilitasi informasi seperti iklan baris dan classified dan mempertemukan pembeli dan penjual, sebuah model bisnis yang kreatif, bermanfaat dan unik di era ecommerce dan digital economy ditanah air. Animo masyarakat cukup tinggi terlihat dari jumlah 3 juta iklan per bulan, atau 150,000 iklan per hari dilirik oleh 1.5 juta netizen yang berkunjung ke situs OLX.co.id.

Menurut Edward, OLX memiliki visi ingin menjadi Ebay.com nya Indonesia, sebuah situs belanja online yang fokus pada lelang, jual-beli dan online payment. Sedangkan OLX fokus pada bisnis model Iklan baris Online, sehingga peluang sukses (rate) cukup tinggi dimana 50-75 % iklan laku dalam waktu seminggu. Oleh karenanya iklan online di OLX memiliki expiry date (batas waktu) 1 bulan misalnya untuk gadget consumer elektronik, 3-6 bulan untuk produk property seperti rumah, tanah dan lainnya.

Rudi Rusdiah, Ketua Mastel dan juga CEO Micronics Internusa sering memanfaatkan fasilitas iklan online TokoBagus.com untuk melelang barang barang eks rental dari perusahaan MNC yang sudah jatuh tempo masa kontraknya. Misalnya untuk penjualan clearance ratusan produk PC dan notebook kepada Warnet, UKM dan mahasiswa yang sangat suka membeli barang eks rental yang layak pakai dan bermutu, karena harganya tentu relative jauh lebih murah dari pada barang baru di pusat perbelanjaan/Mall.

Dunia Ecommerce di Indonesia sedang booming dan kebanjiran investor seperti Lippo Group menginvestasikan Rp 5 Triliun (US$ 500 juta) kepada Mataharimall.com, Softbank Jepang menginvestasikan USD 100 juta, Bukalapak,Lazada, Kudo, Dealoka tidak disclosure (membuka) jumlah total investasi, demikian juga dengan Nasper, Afrika Selatan juga tidak mempublikasikan jumlah investasinya di OLX.co.id kepada Komite.id, karena memang tidak signifikan dan irelevan dibandingkan, dengan banyaknya peluang bisnis Ecommerce kedepan di Indonesia. Jumlah bisnis startup (pemula) Ecommerce di Indonesia 136 startup adalah yang terbanyak diikuti oleh Singapura (67), Vietnam (37) , Malaysia hanya (19) startup menurut data dari East Venture kepada Komite.id (rrusdiah@yahoo.com)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.