Next Generation Broadband 5G Forum & Komersialisasi 4G ?

0
1100

Jakarta, KomIT- ZTE, sebuah perusahaan MNC di industri Telekomunikasi Wireless Broadband dari Shentzen, Tiongkok memprakarsai sebuah RoundTable Discussion antara Pemerintah, Regulator, Operator dan Komunitas Telematika dengan judul yang futuristik “Next Generation Broadband 5G Forum bersama Mastel di Mandarin Hotel (19/11) kemarin.

Keynote Menteri Perindustrian yang dibacakan oleh Dirjen ILMEA, Putu Suryawirawan mengatakan, Kementeriannya masih fokus pada gadget smartphone, yang memang sudah menjadi sarana utama dari generasi Z mengakses Internet dan sosial media. Ketika Suryawiawan menyinggung soal TKDN, tentu yang dimaksud masih peraturan TKDN yang baru akan berlaku pada 2017 awal untuk industri smartphone 4G LTE, bayangkan, sedangkan diforum ini sudah membicarakan 5G ?

Sementara Menteri Kominfo, Rudiantara pun berkelakar bahwa ketika kita diskusi mengenai 5G, namun dilapangan masih banyak BTS 2G dan gadget fitur phone terutama di daerah suburban dan rural, apalagi beberapa pulau terluar dan terpencil masih ada yang blank spot. Sehingga mendorong Rudiantara bicara mengenai Google Loon yang ditujukan hanya untuk daerah rural Indonesia Timur seperti Papua dan Kalimantan.

Lebih lanjut Rudiantara menegaskan bahwa tidak ada lisensi khusus yang diberikan kepada Google, dan memaksa Google untuk berkolaborasi dengan operator Telkom seperti Telkomsel, Indosat dan XL serta yang lain apabila akan menggelar balon nya di wilayah kedaulatan RI. Ketua Umum Mastel, Kristiono sebagai tuan rumah memfasilitasi agar industri memahami perkembangan teknologi 5G ini meskipun industri masih sibuk untuk menjaga EBITDA agar masih bisa profit dengan investasi infrastrktur 3G maupun 4G. Namun Analis ekonomi, Dario Taimesio dari Ovum menganjurkan agar industri mulai juga mempertimbangkan 5G, karena perubahan teknologi dari 4G ke 5 G akan sangat cepat dan lebih cepat dari adopsi 3G dari 2G yang hanya berlangsung 10 tahun.

Dari sisi Operator Telekomunikasi sudah pasti yang lebih diprioritaskan adalah bisnis model dan profit and loss, padahal menurut CEO XL, Dian Siswarini, beberapa hari yang lalu baru saja rampung refarming 4G LTE difrekwensi 1800Mhz , sehingga baru saja bisa meresmikan komersialisasi dan meluncurkan layanan 4G LTE pada sesi beliau di Roundatable Next Generation Broadband 5G, yang akan disusul dengan peluncuran layanan 4G di 12 kota dengan penambahan pelanggan 4G sebesar 3 juta dari total 46.8 juta pelanggan smartphone. Refarming dari 4G ini akan menyerap banyak biaya dari operator yang sudah tentu harus memikirkan balik modal investasinya (return). BTS XL diharapkan dapat mengcover 90% wilayah di Jakarta dan ditopang dengan 3000 BTS 4G.

Memang agak sulit membicarakan teknologi disruptive 5G ditengah kesibukan operator dan regulator untuk menggelar infrastruktur 4G dan minimal masih berkutat mengganti majoritas 2G dengan 3G dan 4G, dimana masyarakat tentu lebih mementingkan pemeratahan dan kualitas dari jaringan yang ada, bukan asal teknologi disruptive dan canggih 5G (rrusdiah@yahoo.com).

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.